Disrupsi Ubah Sosial Budaya Masyarakat

Rektor UNY Prof Dr Sutrisna Wibawa

Rektor UNY Prof Dr Sutrisna Wibawa

JOGJA – Kita dikejutkan dengan era baru bernama era disrupsi akhir-akhir ini. Lebih lengkapnya disruption innovation. Inovasi baru terutama di bidang teknologi informasi yang tumbuh sangat pesat. Kehadirannya yang tak terlihat tidak disadari oleh organisasi lama yang telah merasa mapan. Tanpa disadari era disrupsi menjadi pengganggu roda organisasi petahana dan bahkan menghancurkannya.

Kasus yang populer di Indonesia, keberadaan angkutan online yang tanpa diduga-duga mampu menggeser keberadaan angkutan konvensional. Juga kehadiran kartu e-toll, AirBnB, ataupun toko online yang mampu menggeser keberadaan pekerja pintu tol, sektor perhotelan, ataupun toko-toko dan mal-mal.

“Perlahan namun pasti, pergeseran ini juga mengubah kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia,” ujar Rektor UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Prof Dr Sutrisna Wibawa, di hadapan peserta wisuda doktor, magister, sarjana, dan diploma periode Februari, di GOR UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Sabtu (24/2).

Era disrupsi akan terjadi secara meluas. Mulai dari pemerintahan, politik, ekonomi, budaya, hukum, penataan kota, konstruksi, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Era disrupsi bukan sekadar fenomena hari ini, melainkan juga fenomena hari esok. “Para wisudawan harus siap dan berkompetisi memasuki era ini,” tandas Sutrisna.

Disrupsi ditandai dengan empat indikator, simpler (lebih mudah), cheaper (lebih murah), accessible (lebih terjangkau), dan faster (lebih cepat). Untuk menghadapi itu semua lulusan harus siap dengan segala persoalan yang dihadapi. Dengan segala cara harus didekati, dianalisis, dan diselesaikan dari berbagai perspektif keilmuan. “Belajar dari era disrupsi, lulusan harus segera berubah. Jika tidak, lulusan akan mengikuti jejak lesunya transportasi konvensional ataupun bisnis retail,” kata Sutrisna.

Rektor juga mengingatkan, saat ini di dunia pendidikan telah marak dengan pendidikan MOOCs (Massive Open Online Course). Suatu sistem pembelajaran berupa kursus daring (online) secara besar-besaran dan terbuka dengan tujuan memberi ruang partisipasi publik secara tak terbatas melalui akses laman (website). Pengajaran daring memiliki daya jangkau luas, melewati batas-batas fisik kampus dan negara.

Selain menyediakan materi kursus tradisional seperti video, pembacaan dan pembahasan masalah, MOOCs juga menyediakan forum pengguna interaktif yang membantu membangun komunitas untuk dosen-mahasiswa ataupun guru-siswa. “Program ini dirancang dan dikembangkan agar memungkinkan peminat atau publik untuk terus belajar sepanjang hayat pada era digital saat ini dan di masa yang akan datang,” papar Sutrisna.

UNY Februari ini mewisuda 966 orang dengan rincian tujuh orang program Doktor (S3), 157 orang program Magister Pendidikan (S2), 770 orang program Sarjana (S1), dan 32 orang program Diploma. Sebaran para wisudawan periode ini, PPs sebanyak 164 orang, FIP (116), FBS (182), FMIPA (97), FIS (93), FT (132), FIK (79), dan FE (103).

Wisudawan yang meraih predikat cum laude atau dengan pujian sebanyak 237 orang atau 24,53 persen. S1 ada 236 orang, dan D3 satu orang. Mahasiswa Bidikmisi meluluskan 151 orang. IP tertinggi 3,89, IP terendah 2,89, dan rerata IP 3,51. Mahasiswa Bidikmisi berpredikat cum laude sebanyak 78 orang atau 51,66 persen, sangat memuaskan 71 orang atau 47,02 persen, dan memuaskan dua orang atau 1,32 persen. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan