Ditjen IKM Fokus Industri Menengah, Ini Alasannya

Sosialisasi DAK: Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih (kanan) didampingi Sesditjen IKM Kemenperin Eddy Siswanto menjawab pertanyaan wartawan usai membuka Sosialisasi Juknis dan Pembahasan Rencana Kerja DAK Fisik Revitalisasi Sentra IKM TA 2019, di Jogjakarta, Rabu (5/12) malam.

Sosialisasi DAK: Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih (kanan) didampingi Sesditjen IKM Kemenperin Eddy Siswanto menjawab pertanyaan wartawan usai membuka Sosialisasi Juknis dan Pembahasan Rencana Kerja DAK Fisik Revitalisasi Sentra IKM TA 2019, di Jogjakarta, Rabu (5/12) malam.

JOGJA – Kementerian Perindustrian melalui Ditjen IKM terus berupaya mengembangkan sektor industri pada setiap daerah, guna mengangkat potensi setiap daerah di Indonesia sebagai sektor penunjang perekonomian nasional. Pada 2017, IKM mampu menyumbang 3,06 persen dari PDB nasional.

“Pengembangan pun untuk meningkatkan daya saing IKM guna memasuki pasar dalam negeri maupun pasar global dengan bentuk Revitalisasi Sentra IKM,” ujar Dirjen IKM (Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, di Jogjakarta, Rabu (5/12) malam, mengawali Sosialisasi Juknis dan Pembahasan Rencana Kerja DAK Fisik Revitalisasi Sentra IKM TA 2019.

DAK (Dana Alokasi Khusus) Fisik Revitalisasi Sentra IKM telah berjalan mulai TA 2016 hingga tahun ini. Pada TA 2016, pagu alokasi anggaran sebesar Rp 166,3 M untuk 149 kabupaten/kota. Pada TA 2017 sebesar Rp 161,5 M untuk 113 kabupaten/kota. TA 2018 sebesar Rp 173,7 M untuk 73 kabupaten/kota. Pagu untuk TA 2019 sebesar Rp 178,3 M untuk 79 kabupaten/kota.

Gati mengharapkan, para pemangku kepentingan di setiap kabupaten/kota dapat berkomitmen untuk mengoptimalkan DAK Revitalisasi Sentra IKM dengan melakukan pembinaan lebih lanjut. “Selanjutnya, kami berpesan agar mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, agar tetap mengacu pada peraturan-peraturan yang berlaku,” tandasnya.

Pada sosialisasi hingga Jumat (7/12) dan diikuti 79 kabupaten/kota penerima DAK Revitalisasi Sentra IKM TA 2019, 30 perwakilan dari dinas provinsi yang menangani industri, tim pembahas dari Ditjen IKM, Birocana dan Inspektorat Jenderal, serta para narasumber, itu Gati juga menandaskan, akan lebih fokus pada industri menengah.

“Dibandingkan industri kecil, industri menengah lebih memiliki energi, memiliki dana sehingga bisa lebih mengikuti perubahan cepat di era digital ini. Terutama dalam hal promosi di dunia internet,” jelas Gati mengemukakan alasan mengapa Ditjen IKM kemudian lebih memilih fokus pada industri menengah.

Bukan berarti kemudian melupakan industri kecil. “Jika industri menengah maju, dipastikan mereka juga akan menarik industri kecil untuk lebih maju pula. Misalnya, kebutuhan bahan baku dipasok oleh industri kecil. Maupun kebutuhan lainnya,” tutur Gati kemudian.

Dengan lebih fokus pada industri menengah diharapkan pengucuran dana pengembangan bisa lebih efektif dan efisien. “Lebih baik fokus lebih dahulu pada tiga puluh ribuan unit industri menengah,” ujar Gati seraya mengungkapkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, hanya empat persen dari keseluruhan IKM yang berhasil maju ketika digelontori dana pengembangan.

Gati mengemukakan, Sentra IKM merupakan sekumpulan unit usaha paling sedikit 20 IKM untuk pulau Jawa dan Bali, 10 IKM untuk Sumatera dan Kalimantan, serta lima IKM untuk pulau lainnya, yang menghasilkan produk sejenis, menggunakan bahan baku sejenis, dan/atau melakukan proses produksi yang sama.

Data 2017 menunjukkan, terdapat 12.186 sentra IKM dengan jumlah unit usaha di dalamnya 270.197 IKM yang tersebar di Indonesia. “Dari jumlah tersebut masih ditemukan beberapa potensi di daerah yang belum dimanfaatkan, kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki, serta kelemahan dalam aspek legalitas,” ujar Gati.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu upaya meningkatkan sarana dan prasarana pada sentra yang telah ada melalui Revitalisasi Sentra IKM yang diharapkan akan meningkatkan daya saing IKM untuk memasuki pasar dalam negeri maupun pasar global. “Pembinaan IKM bisa dilakukan tak hanya melalui APBN maupun APBD tapi juga dapat memanfaatkan program DAK,” tandas Gati. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan