DIY Pertahankan Juara Umum Peksiminas

Rebana: Musik rebana mahasiswa Jawa Timur memeriahkan penutupan Peksiminas XIV 2018, di auditorium Driyakarya, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, Sabtu (20/10).

Rebana: Musik rebana mahasiswa Jawa Timur memeriahkan penutupan Peksiminas XIV 2018, di auditorium Driyakarya, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, Sabtu (20/10).

JOGJA – Duta seni BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) DIY berhasil mencapai target menjadi Juara Umum pada Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) XIV 2018, di Jogjakarta. Dengan demikian para duta seni asal DIY itu mampu mempertahankan predikat Juara Umum setelah pada Peksiminas sebelumnya di Kendari, Sulawesi Tenggara, juga keluar sebagai juara umum.

“Kami bersyukur mampu memenuhi target, sekaligus sebagai tuan rumah tanpa kendala berarti dalam pelaksanaannya,” ujar Ketua Umum Panitia Peksiminas XIV 2018, Drs Anusapati MFA, yang juga Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta, di sela upacara penutupan kegiatan dua tahunan itu, di Auditorium USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta, Sabtu (20/10).

Dalam Peksiminas XIV yang melombakan 15 tangkai lomba memperebutkan 21 medali emas itu duta seni DIY mampu menyabet empat emas. Masing-masing dari tangkai lomba nyanyi pop puteri, penulisan puisi, baca puisi putera, dan desain poster. Keluar sebagai Juara Kedua dan Ketiga, masing-masing duta seni Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sebagai tuan rumah, ISI Jogjakarta tidak sendirian. “Peksiminas kali ini memang istimewa. Tak seperti biasa, kami juga menggandeng delapan perguruan tinggi lain di Jogjakarta sebagai penyelenggara dan tempat lomba,” ungkap Anusapati kemudian.

Peksiminas XIV 2018 yang dibuka Senin (15/10) itu diikuti tak kurang dari 1.400 orang peserta, dengan jumlah mahasiswa peserta lomba 1.008 orang berasal dari 33 provinsi. Sulawesi Barat menjadi satu-satunya provinsi yang tak mengirimkan wakilnya. Ada tiga provinsi sebagai calon tuan rumah Peksiminas XV 2020 mendatang, masing-masing Jawa Barat, Papua Barat, dan Sumatera Barat.

Dirjen Belmawa (Pembelajaran dan Kemahasiswaan) Kemenristekdikti, Intan Ahmad menyatakan, kendati saat ini memasuk era revolusi industri 4.0 tapi pendidikan atau belajar tentang seni sangat diperlukan. “Seni menjadikan hidup lebih bermakna. Pun diperlukan untuk memahami interaksi antar-manusia jika kita tak mau menjadi robot di era 4.0 ini,” tandasnya saat menutup Peksiminas XIV 2018 itu.

Pelaksanaan Peksiminas yang menampilkan keragaman seni maupun bangsa kita itu patut dipertahankan. “Kalian akan menjadi pemimpin bangsa ini nantinya. Bertemu dan bersama kawan-kawan dari berbagai daerah selama lima hari menjadi modal sekaligus pengalaman yang tak terlupakan dan akan menjadi kohesi sosial yang sangat penting. Saya kira, kebersamaan lebih penting daripada menjadi juara,” tutur Intan Ahmad lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan