Donasi Rp 1 Miliar Untuk Sulteng

Aditya Mandala dan Ginandjar Kartasasmita

Aditya Mandala dan Ginandjar Kartasasmita

JOGJA – Membantu proses rehabilitasi pascagempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulteng (Sulawesi Tengah), PT DSLNG (Donggi-Senoro LNG) menyalurkan donasi Rp 1 miliar melalui PMI (Palang Merah Indonesia). Bantuan juga diberikan untuk penanganan masa tanggap darurat, maupun masa transisi.

“Sebagai perusahaan yang beroperasi di Sulteng, kami terpanggil membantu penanganan pasca bencana. Donasi melalui PMI diharapkan bisa membantu upaya rehabilitasi,” ujar Direktur Urusan Korporat DSLNG, Aditya Mandala, saat berbincang melalui saluran telepon dengan wartawan di Jogjakarta, Minggu (11/11).

Penyerahan donasi, menurut salah seorang alumnus SMAN 3 Padmanaba Jogjakarta tahun 1981, itu secara simbolis telah diterima Plt Ketua PMI Pusat Ginandjar Kartasasmita, di Kantor Pusat PMI, Jakarta, Rabu (7/11) lalu.

Saat tanggap darurat yang telah berakhir 26 Oktober 2018, DSLNG juga mengirimkan tim terdiri dari karyawan yang menjadi relawan, dokter, dan paramedik. Di bawah koordinasi Kementerian ESDM dan Dinkes Sulteng, tim mengoperasikan puskesmas Sanguarara di kecamatan Palu Barat sebagai posko tanggap bencana.

Selama dua minggu posko memberikan layanan kesehatan kepada sekitar 1.000 warga, melakukan vaksinasi antitetanus bagi sekitar 350 orang petugas evakuasi, jurnalis peliput bencana, serta warga yang membutuhkan pertolongan lebih lanjut ke RSUD setempat.

Berdasarkan keterangan dr Gitawan Sapta Permana selaku ketua tim tanggap darurat DSLNG, Aditya menambahkan, risiko infeksi bagi masyarakat yang selamat maupun petugas dan relawan yang melakukan pencarian korban meninggal akibat gempa dan tsunami perlu diantisipasi.

Kondisi korban meninggal mulai hari ketiga sudah mengalami pembusukan. Mereka yang beraktivitas di lokasi yang banyak puing-puing, reruntuhan, harus mewaspadai jangan sampai terkena benda tajam. “Luka terbuka akibat benda tajam, rentan terkena infeksi,” kata Aditya mengutip penjelasan Gitawan.

Layanan medik juga diberikan bagi warga pengungsi yang berada di wilayah pelosok Sigi maupun Donggala. Tak mau ketinggalan, tim tanggap darurat DSLNG juga menyalurkan bantuan logistik yang dihimpun dari donasi karyawan maupun perusahaan.

DSLNG pun terlibat dalam penyediaan air bersih dengan membangun 11 sumur bor yang tersebar di wilayah Palu, Sigi, dan Donggala saat memasuki masa transisi. “Air bersih menjadi kebutuhan penting. Titik pertama sumur sudah dikerjakan akhir Oktober. Kami bekerjasama dengan Badan Geologi ESDM dan Elnusa, serta Kementerian ESDM maupun pemprov Sulteng,” ujar Aditya.

Titik pertama sumur bor mulai dikerjakan di masjid Al Azhar, kelurahan Duyu, Palu Barat, pada 20 Oktober lalu. Kedalaman sumur bor mencapai 40 meter dengan waktu pengerjaan 5-7 hari. Sumur bor dilengkapi bak penampungan air dengan kapasitas 1-2 ton. “Target kami seluruh sumur bisa selesai akhir Desember,” papar Aditya yang juga alumnus Teknik Geologi UPN ‘Veteran’ Jogjakarta itu.

DSLNG yang merupakan kerjasama empat perusahaan Asia terkemuka, masing-masing PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi International Tbk, Mitsubishi Corporation, dan Korea Gas Corporation itu fokus pada penyediaan hunian sementara dan pembangunan kembali fasilitas publik, pada masa rehabilitasi. “Bantuan akan dikoordinasikan bersama pemprov Sulteng dan instansi terkait,” tandas Aditya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan