Dosen Kontrak Pusingkan Menristekdikti

Dies UPNVY: Menristekdikti H Mohamad Nasir usai menyampaikan orasi ilmiah memperingati dies natalis ke-60 UPNVY, di kampus setempat, Sabtu (15/12).

Dies UPNVY: Menristekdikti H Mohamad Nasir usai menyampaikan orasi ilmiah memperingati dies natalis ke-60 UPNVY, di kampus setempat, Sabtu (15/12).

JOGJA – Bukan hanya guru. Ternyata ada sekitar 4.000 orang dosen yang juga masih berstatus pegawai kontrak. Menristekdikti (Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) pun mengaku dibuat pusing dengan masih adanya ribuan dosen yang belum diangkat sebagai pegawai tetap itu.

“Saya ikut grup para dosen dan melalui smartphone, saya setiap hari menyimak keluhan mereka. Pusing juga. Semoga pada 2019, semua dosen itu bisa terangkat,” ujar Menristekdikti, H Mohamad Nasir, pada sidang senat terbuka memperingati dies natalis ke-60 UPNVY (Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta), di kampus setempat, Sabtu (15/12).

Padahal, lanjut Nasir, ribuan dosen tersebut sudah mengajar sejak 2016. “Saya berjanji urusan dosen kontrak itu bisa selesai pada 2019,” tandasnya seraya mengemukakan, pada seleksi CPNS yang terakhir kemarin UPN Yogyakarta memperoleh alokasi 105 orang.

Sebelumnya, Rektor UPNVY Dr Mohamad Irhas Effendi MS sempat mengemukakan dari 476 orang dosen yang ada di UPNVY, sebagian masih berstatus sebagai pegawai yayasan. “Sumberdaya manusia, gedung, dan tanah hingga kini masih menjadi persoalan bagi kami,” tuturnya.

Sebelum menjadi perguruan tinggi negeri di bawah Kemenristekdikti, UPNVY memang berstatus sebagai perguruan tinggi swasta di bawah kementerian pertahanan dan keamanan. Karena itulah, hingga saat ini masih ada dosen yang masih berattus sebagai pegawai yayasan.

Di hadapan segenap dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni UPNVY yang hadir, Nasir juga menyampaikan, perguruan tinggi di era 4.0 ini harus mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. “Ijazah saja tidak cukup. Harus disertai sertifikat yang menunjukkan kompetensi lulusan yang bersangkutan,” tandasnya.

Revolusi industri 4.0 akan menggeser berbagai persoalan di dunia. Termasuk pendidikan tinggi. “Suka tidak suka, revolusi industri 4.0 harus kita hadapi. Kita semua harus siap. Jadikan perubahan itu sebagai peluang, bukan halangan,” tutur Nasir kemudian.

Selain memberikan penghargaan, termasuk kepada para senior yang telah membesarkan UPNVY, Irhas pada kesempatan itu juga banyak mengemukakan mengenai perkembangan universitas yang dipimpinnya belakangan ini, setelah berstatus sebagai perguruan tinggi negeri. “Semoga UPN Yogyakarta memiliki daya saing kuat dan unggul di 2019 nanti,” harapnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan