Dosen ‘Nyontek’ Tak Lulus Sertifikasi

IMG_20160815_104715

Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja

Dari kiri, Dirjen Sumber Daya Ipstek dan Dikti, Kemenristekdikti, Prof Dr Ali Ghufron Mukti (tengah), dan Direktur Karier dan Kompetensi Kemenristekdikti Prof Dr Bunyamin Maftuh (kiri), di Jogjakarta, Sabtu (13/8).
JOGJA – Sebanyak 4.512 orang dosen mengikuti program sertifikasi tahap I tahun 2016. Memprihatinkan karena 1.580 orang dosen di antaranya tidak lulus sertifikasi. Mereka rata-rata tidak lulus pada poin deskripsi diri. Sekitar 20 persen dari yang tidak lulus, karena hanya melakukan ‘copy paste’ alias menyontek dari dosen lain saat menulis tentang deskripsi diri.
“Kondisi itu sangat memprihatinkan. Tidak boleh terjadi lagi. Jumlah yang tidak lulus itu pun tergolong sangat besar. Pun, mengherankan masih saja ada dosen yang melakukan copy paste,” ujar Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemenristekdikti, Prof Dr Ali Ghufron Mukti, sambil geleng-gelang kepala, pada sidang kelulusan sertifikasi dosen tahap I 2016, di Jogjakarta, Sabtu (13/8).
Para dosen yang melakukan copy paste, tutur Ghufron, tidak haya dilakukan oleh yang berusia 30-31 tahun tapi juga oleh para dosen senior yang sudah berusia di atas 60 tahun. “Mereka menyontek deskripsi diri para dosen yang telah lebih dulu lulus. Barangkali mereka mengira dengan melakukan itu akan suskes pula dan lulus sertifikasi,” duga Ghufron.
Deskripsi diri, imbuh Ghufron, semacam daftar riwayat hidup. Para dosen harus menulis secara naratif tentang kegiatan hingga kajian yang telah mereka lakukan selama menjadi dosen. Tentu, menjadi sangat aneh jika deskripsi diri yang mereka tuliskan sama, bahkan persis, dengan dosen sebelumnya yang telah lulus sertifikasi. “Tidak mungkin, portofolio pribadi kok sama dengan milik orang lain,” katanya.
Secara finansial, imbuh Ghufron, kementerian pun sangat dirugikan. Jika kementerian harus mengeluarkan dana Rp 800 ribu bagi setiap dosen maka dana yang terbuang percuma karena dosen bersangkutan kemudian tidak lulus, tinggal dikalikan saja. Dengan jumlah 1.580 orang yang tak lulus, maka dana terbuang itu mencapai lebih dari Rp 1,26 miliar. “Jumlah yang tidak sedikit,” tandasnya.
Bagi para dosen yang tidak lulus itu, pun tidak mungkin mengikuti sertifikasi tahap berikutnya tahun ini. “Kuotanya sudah terpenuhi. Kalau pun mereka akan mengikutinya lagi, paling tahun depan baru bisa,” tutur Ghufron sambil berulangkali menyatakan keheranannya masih saja ada dosen yang ingin cari gampangnya saja.
Direktur Karier dan Kompetensi Kemenristekdikti, Prof Dr Bunyamin Maftuh mengemukakan, persentase copy paste yang dilakukan para dosen tersebut mememang bervariasi. Ada yang 50 persen, 60 persen, 70 persen, tapi ada pula yang sampai 90 persen.
Jika 20 persen dari dosen yang tidak lulus sertifikasi karena deskripsi diri yang meragukan, maka 80 persen lainnya karena sebab-sebab lain. “Beberapa di antaranya karena kurangnya kemampuan Bahasa Inggris, serta minimnya penulisan karya di penerbitan jurnal ilmiah,” ungkap Bunyamin.
Jumlah dosen yang belum melakukan sertifikasi, menurut Bunyamin, masih banyak. Dari total 180.000 dosen yang berijazah S2, baru 46 persen yang sudah melakukan sertifikasi. Sedangkan jumlah keseluruhan dosen yang ada, bila ditambahkan dengan yang masih berijazah S1, jumlahnya ada sekitar 230.000 orang. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan