Dosen Tawarkan Politik Gagasan Berbasis Data Raya

JOGJA – Memasuki tahun politik, jelang pemilu 2019, percakapan di media sosial semakin riuh. Polarisasi warganet pun semakin keras. Bahkan tak jarang merembet ke dunia nyata. Sejak kontestasi dua pasangan capres-cawapres pada pilpres 2014, hingga kini masyarakat seakan terbelah menjadi dua kelompok.

“Karena itu kami ingin menyuarakan kebenaran. Kami luncurkan DEA (Drone Emprit Academic) yang mengusung politik gagasan berbasis data raya atau big data,” ujar Rektor UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Fathul Wahid PhD, di kampus setempat, Minggu (14/10).

Gagasan untuk membentuk DEA, lanjut Fathul, telah dimulai sejak setahun lalu. Bersama beberapa dosen dari perguruan tinggi lain, paling tidak mereka berniat menjadi penengah di tengah riuhnya percakapan di media sosial belakangan ini. “Polarisasi makin mengeras. Sayangnya dibangun di atas semangat politik kelompok atau identitas. Kita tawarkan politik gagasan berbasis data raya,” tegasnya.

Melalui politik gagasan yang menyuarakan kebenaran, argumen maupun ide-ide yang berkualitas, diharapkan DEA yang nantinya beranggotakan dosen, para ahli, mahasiswa, jurnalis, anggota LSM, dan lain-lain bisa dimanfaatkan warganet untuk menganalisis secara benar percakapan di media sosial, terutama twitter.

Dosen prodi Ilmu Komunikasi UIN Kalijaga Jogjakarta, Iswandi Syahputra menambahkan, dibentuknya DEA sekaligus dimaksudkan sebagai literasi politik secara gratis bagi khalayak. “Netizen sejak 2014 telah mengalami kekerasan politik dan terbelah menjadi dua kelompok akibat percakapan di media sosial,” katanya.

Sialnya, imbuh Iswandi, itu ditambahi dengan melimpahnya informasi yang tak terkendali. Dan itu mengancam keutuhan bangsa. Kehadiran DEA diharapkan mampu menjadi alternatif jalan keluar. Kepada netizen pun diharapkan untuk tidak mudah masuk ke dalam arus hoaks,” tandasnya.

Ketua prodi Ilmu Komunikasi UPN ‘Veteran’ Jogjakarta, Subhan Afifi mengemukakan, beberapa dosen merasa galau melihat keriuhan di media sosial yang tak tentu arah. “Begitu keras polarisasi masyarakat akibat percakapan di media sosial. Karenanya, kami merasa harus melakukan sesuatu,” tuturnya menyampaikan salah satu alasan peluncuran DEA.

Salah seorang penggagas DEA, Ismail Fahmi menyatakan, DEA melalui analisa berbasis data akan menawarkan kepada khalayak menge

(kiri-kanan) Subhan Afifi, Iswandi Syahputra, Fathul Wahid, Ismail Fahmi

(kiri-kanan) Subhan Afifi, Iswandi Syahputra, Fathul Wahid, Ismail Fahmi

nai kebenaran dari satu isu percakapan di media sosial. “Warganet masuk dalam perangkap politik identitas karena tidak menggunakan data secara baik dan maksimal,” ujarnya.

Memanfaatkan data raya, DEA akan menganalisis sehingga bisa menjadi rujukan atau pembanding maupun pedoman bagi warganet untuk mengusung politik gagasan. “DEA bekerjasama dengan UII akan menyediakan data dalam beropini atau beradu argumen untuk mengusung menguatnya politik gagasan,” tutur Ismail kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan