Dosen UII Susun Model Mudahkan Terapi Dokter

Ridho Rahmadi

Ridho Rahmadi

JOGJA – Bidang psikologi maupun kedokteran selama ini banyak menggunakan sistem atau metoda sebab akibat untuk melakukan diagnosis ataupun terapi. Dosen UII berhasil menyusun satu metoda kombinasi, satu model sehingga memudahkan bahkan memperkecil kekeliruan psikolog, terapis, dokter saat melakukan terapi terhadap pasien.

“Menggunakan data klinis ratusan orang di Eropa dan Amerika, kami mengkombinasikan beberapa metoda sebab akibat hingga menghasilkan satu model yang stabil,” tutur Dosen Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, Ridho Rahmadi SKom MSc PhD, di kampus setempat, Jumat (29/3).

Ridho menyusun causal model yang lebih stabil yang kemudian ia tuangkan ke dalam disertasinya. “Ia merupakan doktor kedelapan dari teknik informatika dan baru dua minggu lalu menerima gelar doktor dari Radboud University Nijmegen, Belanda,” jelas Ketua Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, Izzati Muhimmah ST MSc PhD.

Berbagai domain keilmuan, termasuk kedokteran dan psikologi, selama ini memakai casual model SEM (Structural Equation Model). “Penggunaan SEM menghasilkan jutaan kemungkinan sehingga boleh dikatakan kurang stabil. Dengan enam variabel saja, misalnya, akan ada lebih dari empat belas juta kemungkinan. Sangat menyulitkan,” ujar Ridho.

Dalam penelitian S3-nya di Belanda, Ridho kemudian melakukan kombinasi model sehingga menghasilkan model yang baik tapi simpel. “Ibarat sebuah mobil, kami ingin memperoleh mobil premium tapi murah,” contohnya.

Akhirnya, dengan mengkombinasikan S3C atau model struktural, S3L dengan data longitudinal, dan S3C-Latent, peneliti pada Pusat Studi Sains Data UII, itu mampu mengaplikasikannya pada data-data klinis chronic fatigue syndrome, chronic kidney disease, Alzheimer’s disease, attention deficit-hyperactivity disorder, dan tuberculous meningitis.

Ratusan data klinis mampu ia kumpulkan dan analisa. Hasilnya, Ridho menyimpulkan, model yang ia susun mampu memudahkan atau mengefektifkan terapi maupun pengobatan yang dilakukan oleh seorang terapis, psikolog, ataupun dokter.

Hanya saja, data klinis tersebut ia peroleh dari orang-orang Eropa. Ridho berharap dapat mengumpulkan data klinis dari orang Indonesia. “Akan sangat menarik, karena barangkali hasilnya akan berbeda karena latarbelakang agama maupun kultur,” katanya seraya berjanji akan terus berupaya mengenalkan modelnya sehingga bisa dikembangkan lebih jauh di Indonesia maupun dunia. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan