DPRD DIY Ajak Elit Politik Praktikkan Nilai Luhur

Eko Suwanto (dua kiri)

Eko Suwanto (dua kiri)

JOGJA – Untuk kali kesekian, DPRD DIY menggelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk, di halaman gedung dewan setempat, Jalan Malioboro, Jogjakarta, Sabtu (23/4). Mengambil lakon Dewa Ruci, mengajak masyarakat termasuk elit politik untuk kembali menerapkan nilai-nilai luhur bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin nilai-nilai luhur bangsa, budaya adiluhung kembali dipraktikkan dalam tindakan sehari-hari melalui ujaran ki dalang pada pergelaran wayang kulit tersebut,” ujar Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, kepada wartawan, di lobi DPRD DIY, Jumat (22/3).

Pergelaran wayang kulit, ini menurut Eko, merupakan salah satu cara DPRD DIY untuk nguri-uri, melestarikan, menjaga sekaligus merawat budaya Jawa yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan. “Sebelumnya, kami juga telah menggelar pertunjukan wayang serupa dengan dalang Ki Seno Nugroho,” jelasnya kemudian.

Beberapa lakon sebelumnya yang pernah dibawakan dalang gaya Yogyakarta itu, antara lain Banjaran Bima, Duryudana Gugur, dan Wahyu Makutharama. “Semuanya kami gelar di DPRD DIY. Selain melestarikan budaya Jawa, kami berharap pertunjukan tersebut mampu memperkuat semangat kebangsaan, melalui makna dari lakon-lakon yang kami angkat,” tutur Eko.

Semangat kebangsaan, imbuhnya, diharapkan dapat tercerminkan pada tindakan keseharian dengan selalu mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok. “Kami ingin, melalui pertunjukan wayang kulit tesebut mengajak masyarakatbelajar tentang nilai-nilai luhur dan meneladani sifat kstaria Bima sebagai tokoh utama dalam lakon Dewa Ruci,” ujar Eko.

Tokoh Bima dalam pewayangan, imbuh Eko, merupakan sosok yang selalu menaati aturan, menyampaikan kejujuran, terus terang, serta selalu membela kebenaran. “Jika zaman sekarang, Bima itu sosok yang anti hoaks, menjauhi fitnah, maupun ujaran kebencian,” paparnya lebih jauh.

Eko pun menyatakan, sengaja mengundang dalang Ki Seno Nugroho karena merupakan salah seorang dalang milenial. Selalu memanfaatkan teknologi informasi untuk menyatukan sekaligus memperluas jaringan penggemarnya.

“Kami juga mengharapkan warga masyarakat maupun wisatawan yang berada di sekitar Malioboro pada Sabtu malam itu untuk turut menikmati pergelaran wayang kulit semalam suntuk tersebut. Pun, bagi wisatawan yang kebetulan berlibur ke Jogja dan kangen dengan alunan gamelan, tembang, maupun ujaran nilai-nilai luhur yang akan dipaparkan ki dalang, silakan ikut menyaksikan,” tandas Eko. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan