DPRD DIY Angkat Kembali Ajaran Astabrata

Eko Suwanto (kiri) dan Yoto

Eko Suwanto (kiri) dan Yoto

JOGJA – Memperingati Hari Pahlawan 10 November, DPRD DIY kembali mengangkat ajaran Astabrata melalui pergelaran wayang kulit semalam suntuk, di halaman kantor legislatif setempat, Jumat (16/11), mulai pukul 20.00 WIB. Dengan lakon ‘Wahyu Makutharama’ menampilkan dalang Ki Seno Nugroho.

“Ajaran Astabrata masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini. Terutama bagi para pemimpin bangsa sekarang ini,” ujar Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, di kantor dewan setempat, Kamis (15/11), didampingi Yoto salah seorang staf Sekretariat Dewan DPRD DIY.

Bukan kali ini saja DPRD DIY menggelar pertunjukan wayang kulit. “Selain untuk nguri-uri kebudayaan Jawa, pergelaran wayang kulit semalam suntuk ini juga gratis bagi masyarakat yang ingin menonton. Termasuk para wisatawan mancanegara maupun dalam negeri,” tutur Eko kemudian.

Astabrata, lanjut Eko, merupakan delapan sikap, sifat, atau perilaku yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin. Sikap seperti Pratiwi (Bumi), Surya (Matahari), Candra (Bulan), Samirana (Angin/Udara), Jaladri (Samudera), Tirta (Air), Kartika (Bintang), dan Dahana (Api).

Seperti Bumi, misalnya, seorang pemimpin harus siap menjadi pijakan bagi masyarakatnya menjadi tempat tumbuh bagi pepohonan. Seperti Matahari, siap menerangi bagi sesama. Begitu pula dengan sikap yang lain. “Intinya, seorang pemimpin harus rela, ikhlas berkorban tanpa menghitung untung rugi,” papar Eko lebih jauh.

Mengundang tak kurang dari 600 undangan bagi pimpinan dan anggota dewan, anggota Forkominda, serta beberapa pejabat eksekutif, lakon Wahyu Makutharama diharapkan menjadi teladan bagi para pemimpin maupun para calon pemimpin bangsa.

Tak lupa Eko juga mengharapkan, pemerintah daerah juga selalu melestarikan kebudayaan atau pertunjukan tradisional wayang kulit. “Ini sesuai dengan amanat bahwa menjaga pelestarian budaya menjadi salah satu aspek dari keistimewaan DIY. Sekaligus menggerakkan perekonomian warga karena pertunjukan wayang kulit bisa dimaknai pula sebagai atraksi budaya yang akan mampu mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan