Dua Mahasiswa UII Permudah Pengobatan Kanker Payudara

 IMG_20161216_120150
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Dari kiri, Izzati, Dadang, Dhina.
JOGJA – Dua orang mahasiswa Pascasarjana UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Dhina Puspasari Wijaya SKom Mkom dan Dadang Heksa Putra SKom MKom, berhasil mengembangkan aplikasi informatika medis yang mampu mempermudah seorang dokter patologi anatomi mendeteksi sel kanker payudara pada tubuh pasien.
“Ketika pendeteksian lebih akurat maka pengobatannya pun akan lebih tepat,” ungkap dosen pembimbing dua mahasiswa tersebut, Izzati Muhimmah ST MSc PhD, kepada wartawan, di kampus setempat, Jumat (16/12).
Melalui aplikasi swapping warna citra histopatologi kanker payudara, Dhina berhasil memperbaiki kualitas citra gambar hasil pemeriksaan kanker payudara melalui tindakan biopsi, sehingga dokter patologi anatomi akan lebih mudah untuk menganalisis.
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian, rekomendasi pakar dari 42 data citra yang diperbaiki 38 citra menunjukkan hasil yang optimum sebesar 90,48 persen. “Setelah kami tunjukkan kepada dokter patologi, mereka pun menyatakan sangat terbantu dengan perbaikan atau adanya penyempurnaan citra tersebut,” ujar Dhina.
Hasil penelitian Dhina itu kemudian dipertajam dengan penelitian yang dilakukan Dadang. “Melalui penelitian Dadang inilah dokter akan bisa membedakan hasil biopsi manakah yang berpotensi memunculkan kanker payudara yang ganas, atau tidak,” jelas Izzati.
Dengan mengetahui potensi ganas tidaknya sel kanker pada pasien, pengobatan lanjutannya pun akan lebih tepat dan secara ekonomis pun bisa menjadi lebih murah. “Jika hasil biopsi menunjukkan sel kanker payudara yang tidak ganas atau justru ganas, dokter akan mudah memutuskan pengobatan berikutnya. Persoalan muncul ketika hasil biposi menunjukkan kondisi di tengah-tengah antara yang tidak ganas dengan yang ganas,” papar Dadang.
Mengingat adanya kondisi tengah-tengah tersebut, penelitian lanjutan pun sangat diperlukan. “Mengetahui secara tepat kondisi tengah itu, akan sangat menentukan bagi seorang pasien, memerlukan pengobatan brikutnya yang cukup mahal atau tidak. Doakan kami mampu melakukan penelitian lanjutan itu,” tandas Izzati. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan