Dunia Akui Kreativitas Fotografer Macro Indonesia

Macro: Teguh Santosa (kanan) menjelaskan seputar penyelenggaraan March Macro 'No Limit', sebuah gelaran yang digelar oleh Komunitas Macro Jogjakarta.

Macro: Teguh Santosa (kanan) menjelaskan seputar penyelenggaraan March Macro ‘No Limit’, sebuah gelaran fotografi yang digelar oleh Komunitas Macro Jogjakarta.

JOGJA – Komunitas fotografer macro di Indonesia makin berkembang dari tahun ke tahun. Kreativitasnya pun sangat kaya. Dunia pun mengakui kreativitas fotografer macro Indonesia itu. Beberapa fotografer pun sering diundang ke luar negeri untuk memberikan ceramah dan workshop tentang fotografi macro.

Menambah wawasan serta meningkatkan kesabaran sewaktu mencari dan mengabadikan objek, komunitas macro menggelar gathering March Macro III di Ledok Sambi, Pakembinangun, Pakem, Sleman, DIJ, 10-11 Maret 2018. “Ini merupakan kegiatan tahunan. Tahun ini diikuti tak kurang dari delapan puluh orang peserta,” jelas penggagas March Macro, Teguh Santosa.

Selama gathering di lereng Merapi itu, para peserta pada hari pertama diajak memotret konsep human interest berupa membajak sawah dengan sapi, memancing di sungai kecil, dan mencuci di sungai. Malam harinya, peluncuran sekaligus bedah buku karya Fauzan Maududdin dan Arbain Rambey, serta workshop Digital Imaging, Menciptakan Realitas Baru oleh Budi CC-Line.

Esok harinya, workshop dan praktik lighting dan diffuser dalam memotret macro oleh Shikhei Goh, yang pernah memenangi lomba National Geographic pada 2011 silam melalui foto Capung Kehujanan. “Selain pencahayaan yang tepat, memotret macro memang membutuhkan kesabaran lebih. Apalagi jika di alam bebas,” tutur Shikhei.

Dilanjutkan acara inti hunting macro dengan tema nature, konsep, still life, dan ekstrim. Sesi ini dilombakan secara on the spot dengan hadiah yang disediakan oleh salah satu produsen film foto. Pemenangnya akan diumumkan langsung usai hunting. “Kali ini hadiah yang disediakan cukup besar. Total senilai dua puluh lima juta rupiah,” ujar Teguh.

Pada prinsipnya memotret macro adalah teknik memotret objek dengan proporsi satu banding satu. “Biasanya objek yang dibidik adalah benda-benda yang kecil. Titik embun, serangga kecil seperti semut, capung, dan lain-lain. Dan untuk memperoleh hasil yang bagus membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi karena biasanya harus menunggu momen yang paling tepat untuk hasil optimal,” papar Teguh kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan