Dwi Hartanto Bukti Pendidikan Karakter Masih di Atas Kertas

 IMG_20171011_102954
Rektor IST Akprind Dr Ir Amir Hamzah MT (tengah) memberikan penjelasan kepada wartawan.
JOGJA – Dunia pendidikan nasional kembali tersentak. Kasus kebohongan Dwi Hartanto, ‘dugaan’ plagiarisme di UNJ, masih adanya dosen yang dipecat karena melakukan tindakan tidak terpuji, seakan membuka kembali mata kita semua. Memprihatinkan. Sekaligus menjadi bukti, pendidikan karakter kita masih sebatas di atas kertas.
Bahkan dari 4.000-an perguruan tinggi se Indonesia, terbukti 242 di antaranya merupakan perguruan tinggi abal-abal. “Jelas ini harus menjadi perhatian kita semua. Harus menjadi cambuk bagi dunia pendidikan,” ujar Rektor IST Akprind Jogjakarta, Dr Ir Amir Hamzah MT, kepada wartawan, di kampus setempat, Selasa (10/10).
Rektor IST Akprind beserta jajarannya memang sengaja mengadakan pertemuan dengan wartawan, karena Dwi Hartanto yang ketahuan berbohong sejatinya alumnus perguruan tinggi tersebut. “Meski sebenarnya tidak ada kaitannya lagi dengan kami dan itu menjadi tanggungjawab pribadi Dwi Hartanto, namun kami tetap merasa bersalah juga atas ulah alumnus kami itu,” tegas Amir.
Dwi Hartanto tercatat sebagai mahasiswa S1 Teknik Informatika IST Akprind sejak 2001 dan dinyatakan lulus 15 November 2005. Dengan IPK 3,88 atau cumlaude. “Bahkan dia telah menunjukkan prestasi sebagai lulusan terbaik pada wisuda ketika itu dan merupakan mahasiswa berprestasi tingkat Kopertis Wilayah V,” jelas Amir.
Saat ini jumlah alumni IST Akprind tercatat 15-20 ribu orang dan banyak di antaranya memiliki prestasi yang membanggakan. “Sangat tidak adil jika kemudian akibat ulah satu orang seluruh alumni harus ikut menanggung dosanya. Meski, bukan berarti itu menjadi alasan kami untuk menghindar. Kami pun merasa ikut bersalah atas kebohongan Dwi Hartanto,” tutur Amir.
Sebagai perguruan tinggi yang telah meluluskannya, IST Akprind pun merasa ikut tertipu dengan kebohongan Dwi Hartanto. “Di dalam kurikulum, sebenarnya kami sudah menyisipkan softskill di setiap mata kuliah, tapi masih juga muncul kasus kebohongan itu. Secara lebih luas ini menjadi bukti pendidikan karakter kita masih di atas kertas,” tandas Amir.
Ketua Senat IST Akprind, Saiful Huda ST MT menegaskan, ulah Dwi Hartanto harus menjadi introspeksi kita semua. Terutama ke dalam diri IST Akprind karena kepada semua mahasiswa sudah diberikan pula matakuliah Engineering Ethyc. “Ini harus kita jawab agar ke depan lulusan IST Akprind lebih baik.”
Yuliana Rahmawati ST MT selaku dosen pembimbing skripsi Dwi Hartanto pun mengaku sedih dengan ulah mantan mahasiswanya itu. “Saya hanya bisa berharap semoga Dwi bisa mengambil hikmah dari kebohongan yang telah ia lakukan. Harus pula bisa segera memperbaiki diri,” katanya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan