Edukasi Merapi Perlu Lebih Awal

Dwi Handayani

Dwi Handayani

JOGJA – Merapi merupakan salah satu gunungapi teraktif di dunia. Banyak aspek terkait dengan gunungapi yang terletak di perbatasan DIY – Jateng itu. Mulai yang bersifat ilmiah tentang kegunungapian hingga persoalan supranatural. Termasuk masyarakat setempat yang ternyata sangat beragam ketika menyikapi fenomena letusan Merapi.

“Meski hanya sekitar dua belas persen, namun masih ada masyarakat di KRB III dan II yang ternyata belum siap manakala terjadi letusan Merapi,” ujar dosen prodi Teknik Industri FTI UII, Dr Dwi Handayani ST MSc, di kampus setempat, Senin (28/1).

Dwi yang merupakan doktor ke-9 Jurusan Teknik Industri FTI UII itu meneliti sekitar 400 warga KRB (Kawasan Rawan Bencana) III dan II Merapi dan menemukan beragam perilaku masyarakat setempat terkait dengan letusan Merapi.

“Ada masyarakat yang telah siap jika sewaktu-waktu Merapi meletus, tapi ada sebagian kecil yang belum siap kendati mereka berada di wilayah rawan bencana. Karenanya perlu diberikan edukasi terutama mengenai penyelamatan diri ketika sewaktu-waktu terjadi letusan Merapi,” tutur Dwi.

Permasalahan sistem evakuasi bencana khususnya bencana letusan Merapi, menurut Dwi, merupakan persoalan yang kompleks dan dinamis yang membutuhkan pemecahan struktural. Menganalisa dinamika sistem dengan mempelajari pola-pola tingkah laku yang dibangkitkan oleh sistem seiring dengan bertambahnya waktu.

Melalui serangkaian survei, Dwi menemukan lima tipe perilaku di antara masyarakat yang berada di KRB III dan II. Masing-masing Official Leader, Cultural Leader, Vulnerable Group, Prepared Community Member, dan Unprepared Community Member yang selanjutnya disebut Agents.

Penelitian Dwi pun menghasilkan beberapa usulan perbaikan terhadap sistem evakuasi bencana letusan Merapi. Antara lain, skenario terbaik untuk meminimalkan jumlah korban jiwa saat bencana letusan Merapi, yaitu menambah persentase masyarakat siap atau prepared community member.

Saran lain, menekan waktu tunggu untuk evakuasi di bawah 56,2 menit setelah letusan terjadi sehingga akan meminimalkan korban jiwa sekaligus memaksimalkan jumlah persentase penduduk yang selamat. “Atau memperbaiki kondisi jalur evakuasi yang akan memaksimalkan kecepatan rata-rata kendaraan evakuasi. Hal lain, menambah jumlah kendaraan bantuan untuk evakuasi,” tandas Dwi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan