Ekosistem ‘Langit’ Belum Siap

Yulis Widyo Marfiah

Yulis Widyo Marfiah

JOGJA – Menghadapi era revolusi industri 4.0 pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika terus mengupayakan pemerataan layanan internet ke seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah pun telah membangun ‘tol langit’, Palapa Ring, sebagai upaya untuk merealisasikan.

“Sayangnya, harus diakui, masyarakat kita belum semuanya siap. Belum semuanya mampu memanfaatkan internet secara optimal untuk hal positif,” ungkap Kepala Divisi Layanan TI untuk Badan Usaha Bakti (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kominfo RI, Yulis Widyo Marfiah ST MT, di Jogjakarta, Sabtu (23/3).

Pembangunan infrastruktur, lanjut Yulis, memang menjadi fokus pemerintah saat ini. Termasuk Palapa Ring, infrastruktur yang diharapkan mampu menjadi tulang punggung untuk ‘menyatukan’ Indonesia melalui jaringan internet.

Pemerintah menargetkan pada 2020 nanti tak ada lagi daerah di tanah air ini yang tidak terjangkau sinyal. Bahkan pada 2022 menargetkan semua wilayah di Indonesia sudah tersambung dengan jaringan internet.

Bakti Kominfo, menurut Yulis, memperoleh bagian untuk membangun jaringan di 57 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota. “Diprioritaskan untuk daerah 3T dan perbatasan,” jelasnya di sela seminar Merajut Nusantara, Kesiapan Masyarakat dan Dunia Usaha Menghadapi Revolusi Industri 4.0 itu.

Yang masih menjadi ganjalan, ekosistem yang belum semuanya siap menghadapi era digital tersebut. “Harus dibangun dan semua itu harus dimulai dari masing-masing keluarga sehingga jaringan internet benar-benar bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif,” tandasnya.

Anggota Komisi I DPR RI, Dr H Sukamta mengemukakan, sebenarnya anak-anak muda sekarang ini sudah banyak yang mampu beradaptasi dengan wacana yang berkembang di era revolusi industri 4.0. “Anak-anak muda, saya yakin termasuk anak muda di Yogyakarta, telah mampu menyesuaikan dengan kehidupan digital,” katanya.

Jika orangtua mereka masih berpikiran dan bekerja analog serta digital sebagai hiburan, anak-anak muda justru tak menggunakan lagi fasilitas digital untuk hiburan semata tapi untuk bekerja dan menghasilkan uang. “Kelihatannya saja bermain-main dengan handphone, laptop pada malam hari. Ternyata itu karena menyesuaikan dengan waktu di Eropa atau Amerika,” tutur Sukamta kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan