Ekspor Mebel Kalah Jauh Dibandingkan Vietnam

Jiffina: Assek Perekonomian Pemda DIY, Tri Saktiana, memukul gong menandai peluncuran Jiffina 2019, di Jogjakarta, Jumat (25/1) malam. Gelaran pameran Jiffina 2019 akan dilaksanakan di JEC, 13-16 Maret 2019.

Jiffina: Assek Perekonomian Pemda DIY, Tri Saktiana, memukul gong menandai peluncuran Jiffina 2019, di Jogjakarta, Jumat (25/1) malam. Gelaran pameran Jiffina 2019 akan dilaksanakan di JEC, 13-16 Maret 2019.

JOGJA – Indonesia merupakan negara yang kaya dengan bahan baku kayu maupun rotan. Namun, nilai ekspor Indonesia untuk komoditas mebel masih kalah jauh dibandingkan Malaysia. Apalagi dengan Vietnam. Tapi tetap harus optimis karena Indonesia memiliki potensi untuk mengalahkan negara-negara itu.

“Indonesia kaya dengan kayu dan rotan. Dengan demikian permasalahannya bukan di ketersediaan bahan baku, namun persoalannya ada di penggarapan dan pemasarannya,” ungkap Assek Perekonomian Pemda DIY, Tri Saktiana, pada peluncuran Jiffina (Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia) 2019, di Royal Ambarrukmo Hotel, Jogjakarta, Jumat (25/1) malam.

Pada tahun 70-an, imbuh Saktiana, kiblat furnitur ada di Eropa. Tapi pada tahun 90-an sudah bergeser ke Asia dengan eksportir terbesar di dunia saat ini dipegang oleh Tiongkok dengan nilai ekspor 52 miliar dolar AS. Vietnam ada di peringkat ke-5 dan Malaysia ada di urutan ke-12. Indonesia ada di nomor 18 dengan nilai ekspor 1,7 miliar dolar AS.

Karena Indonesia tertinggal bukan karena bahan baku tapi lebih pada penggarapan dan pemasaran, imbuh Saktiana, maka gelaran Jiffina yang tahun ini sudah memasuki tahun keempat merupakan sumber potensi yang sudah semestinya mendapat perhatian.

“Jogja itu gudangnya orang-orang kreatif. Ekspor furnitur pun cukup menjanjikan meski kadang harus melalui kota lain. Jiffina menjadi salah satu buktinya. Ada buyers maupun pengunjung yang selalu datang sejak kali pertama pameran ini digelar. Bahkan memastikan akan hadir pada penyelenggaraan tahun ini. Itu membuktikan mereka cukup terkesan dengan gelaran Jiffina ini,” kata Saktiana.

Ketua Komite Jiffina 2019, Endro Wardoyo mengemukakan, kendati pada awalnya sempat tertatih namun kini gelaran Jiffina, yang tahun ini akan digelar di Jogja Expo Center, 13 – 16 Maret, sudah mulai menampakkan hasil. Selain jumlah pengunjung yang terus bertambah, nilai transaksi yang dibukukan semakin tahun semakin meningkat.

Jika pada tahun lalu nilai transaksi on the spot sebesar 64 juta dolar AS maka target tahun ini panitia menargetkan transaksi sebesar 80 juta dolar AS dengan follow up diperkirakan akan menembus 160 juta dolar AS. Jumlah buyers dari berbagai negara pun diprediksi akan meningkat dari 3.800 pada tahun lalu menjadi 4.500 tahun ini.

“Kami cukup optimistik dengan target tersebut mengingat perekonomian dunia saat ini sudah mulai pulih sehingga pasar furnitur dan kerajinan di tingkat internasional pun juga mengikuti. Peserta Jiffina tahun ini juga semakin bertambah sehingga ini menambah optimisme kami,” tutur Endro kemudian.

Yuli Sugianto mewakili Forum Jiffina Jawa-Bali, juga mengungkapkan optimisme yang sama. “Melalui tekad yang kuat sejak awal, rasanya Jiffina sampai sekarang sudah menampakkan hasil positif. Bahkan gelaran pameran di Jogja ini sudah masuk ke dalam sirkuit pameran ASEAN. Buyers pun datang dari berbagai penjuru dunia. Artinya, Jiffina telah diakui dunia internasional,” paparnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan