Erasmus Tularkan Pola Pikir Kewirausahaan

Kewirausahaan: (kiri-kanan) Nadine Sulkowski (University of Gloucestershire), Neil Towers (University of Gloucestershire), Fathul Wahid (Rektor UII), Abdul Fadlil (Wakil Rektor III UAD), Wiryono Raharjo (Wakil Rektor IV UII) menjelaskan tentang program GITA Erasmus+ dengan program utama meningkatkan kapasitas kewirausahaan di perguruan tinggi, di kampus UII, Kamis (19/7).

Kewirausahaan: (kiri-kanan) Nadine Sulkowski (University of Gloucestershire), Neil Towers (University of Gloucestershire), Fathul Wahid (Rektor UII), Abdul Fadlil (Wakil Rektor III UAD), Wiryono Raharjo (Wakil Rektor IV UII) menjelaskan tentang program GITA Erasmus+ dengan program utama meningkatkan kapasitas kewirausahaan di perguruan tinggi, di kampus UII, Kamis (19/7).

JOGJA – Melalui hibah kerjasama, Erasmus+ menularkan pola pikir kewirausahaan ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Pengembangan kewirausahaan dalam spektrum yang luas itu diharapkan mampu mengubah pola pikir dari teaching university ke entrepreneur university sehingga kehidupan kampus lebih terbuka, sekaligus membangun keterkaitan dengan industri.

“Pengembangan kewirausahaan dalam hal ini tak selalu harus berujung pada hal-hal komersial, tapi juga mengembangkan atau mengajarkan keberanian mengambil risiko, kreativitas, hingga kolaborasi. Dan di tengah-tengah itu dikembangkan pula keterkaitan antara universitas dengan industri,” jelas Rektor UII Fathul Wahid, di sela workshop GITA (Growing Indonesia: Triangular Aprroach) Erasmus+, di kampus UII, Kamis (19/7).

Workshop tersebut memang merupakan salah satu tindak lanjut dari hibah kerjasama dari Erasmus+.GITA dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas universitas yang menjadi anggota dalam hal kewirausahaan dalam program yang telah berjalan selama 18 bulan ini. “Ada sekitar empat puluh orang peserta asal sebelas universitas dari berbagai negara terlibat di dalamnya,” tandas Fathul.

Sebelas universitas yang turut serta dalam pelaksanaan workshop, meliputi University of Gloucestershire, Fachhochschule des Mittelstands, Dublin Institute of Technology, Innsbruck University, President University, universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Brawijaya, STIE Malangkucecwara, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Islam Indonesia.

Mengubah mindset atau pola pikir, lanjut Fathul, tentu bukan perkara mudah. “Butuh proses yang akan menyesuaikan dengan kondisi masing- masing perguruan tinggi. Dengan demikian bentuk pengembangan kewirausahaan di satu universitas dengan universitas lainnya pasti akan berbeda,” tandasnya.

Melalui kerjasama, kampus-kampus yang menjadi anggota tersebut saling bersinergi bersama masyarakat untuk pemberdayaan kapasitas kewirausahaan. Di antaranya melalui implementasi hibah dari program Erasmus+ tersebut. Selain itu, pengembangan fisik program GITA atau sering disebut growth hubs.

Growth hubs merupakan salah satu unit yang memfasilitasi hubungan antara universitas dengan pelaku kewirausahaan di luar negeri. “Termasuk juga menghubungkan mahasiswa dengan industri dan pemberi kerja,” tutur Fathul kemudian.

Melalui kerjasama tersebut diharapkan tidak semata-mata meningkatkan capacity building untuk membuat bisnis. Namun menjadikan GITA sebagai platform atau katalis ke arah entepreneur university. “Penguatan jaringan ini juga dapat membesarkan Indonesia di masa depan dan menularkan program yang sama ke universitas lain secara konstekstual di Indonesia,” ungkapnya.

Neil Towers dari University of Gloucestershire mengungkapkan, di Eropa pengembangan program seperti GITA Erasmus+ sudah berkembang sejak tujuh tahun terakhir. Dampaknya pun cukup signifikan. Dari 27 universitas yang bekerjasama bisa menghasilkan lebih dari 100 proyek. “Di Indonesia, program ini berkembang dua tahun terakhir dan diharapkan bisa terus ditingkatkan ke depannya,” imbuhnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan