Faktor Politik Turut Pengaruhi Perkembangan LGBT

JOGJA (jurnaljogja) – Pengaruh keluarga, lingkungan sosial dan politik turut mempengaruhi perkembangan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgander). Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Very Julianto, M. PSi menyebutkan, dalam hal politik, pengaruh politik dalam permasalahan LGBT pada dasarnya bermula dari Amerika dan negara-negara bagian Eropa. Yang menjadikan LGBT sebagai hal yang wajar dan kemudian diatur dalam undang-undang.

“Pengaruh tersebut lantas berdampak bagi sebagian negara dalam menyikapi LGBT tersebut. Penyebaran LGBT sebenarnya juga bukanlah isu yang baru dan hingga saat ini penyebarannya juga masih cukup masif, salah satunya terjadi di Indonesia,” katanya dalam launching majalah dan diskusi bertajuk “Mengambil Peran atau Diam untuk LGBT” diselenggarakan Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa Nuansa (LPPM) UMY di kampus setempat, Selasa (29/3).
Sementara di bidang psikologi, Very mengatakan, penanganan dalam permasalahan LGBT harus melalui diagnosa-diagnosa awal, mengapa seseorang dapat terpengaruh menjadi LGBT. Dalam sudut pandang psikologi, sebutnya, terdapat beberapa penyebab. Di antaranya pola asuh, modeling dan traumatic. Penjelasan terkait faktor pola asuh, dalam hal ini disebabkan oleh salahnya orangtua mendidik anak. Utamanya dalam hal melakukan kekerasan dan juga pengucilan terhadap kekurangan yang terdapat dalam diri anak. Sedangkan dari faktor modeling, disebabkan oleh pengaruh lingkungan, yang didominasi oleh kelompok-kelompok LGBT. Terakhir dari faktor traumatic, hal tersebut disebabkan permasalahan-permasalahan sebelumnya yang menjadi trauma berkepanjangan.

Menurutnya, berbagai penanganan dalam bidang psikologi, pada dasarnya dapat membantu penyembuhan LGBT. Penanganan paling utama, yaitu dalam hal preventif. “Penanganan yang paling utama bagi LGBT, yaitu mencegahnya dengan gencar. Pencegahan yang dilakukan membutuhkan dukungan dari keluarga, pertemanan dan juga lingkungan,” jelasnya.

Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Aly Aulia, Lc, Mhum menjelaskan, dalam kajian agama tidak ada istilah LGBT. Al-Qur’an sendiri menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan. “Sudah cukup jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an bahwa laki-laki dalam asasnya berpasangan dengan perempuan. Ttidak ada istilah berpasangan dengan sesama jenis”. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan