Faktor ‘Why’ Ganjalan Beasiswa Asing

Indy Hardono

Indy Hardono

JOGJA – Belanda menganggap Indonesia bukan lagi negara berkembang yang perlu memperoleh bantuan. Jumlah beasiswa pemerintah Belanda pun dikurangi. Kendati begitu, tak mengurangi minat calon mahasiswa asal Indonesia untuk melanjutkan studi ke Negeri Kincir Angin itu.

“Minat tak berkurang, sehingga banyak pula yang tak lolos seleksi,” ungkap Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono, di sela sosialisasi berbagai beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda, khususnya beasiswa StuNed, di Auditorium Perpustakaan Pusat UGM, Jogjakarta, Senin (12/11).

Untuk persyaratan administrasi, calon mahasiswa asal Indonesia biasanya bisa dengan mulus melewatinya. Kelemahan mereka kebanyakan ada pada motivation statement. Banyak pendaftar beasiswa yang kesulitan ketika diminta menjelaskan motivasi mereka melanjutkan studi ke Belanda.

“Agaknya anak-anak muda kita kurang terbiasa dengan pertanyaan ‘why’. Tapi jika jawabannya ‘yes’ atau ‘no’, mereka bisa segera memenuhinya,” ujar Indy seraya mengemukakan, rata-rata jumlah mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan studi ke Belanda mencapai 1.500-1.600 orang.

Dianggap tak lagi pantas menerima bantuan, pemerintah Belanda pun menggagas skema baru untuk beasiswa yang akan diberikan. “Beasiswa tetap ada. Tapi, jika dulu murni merupakan bantuan, sekarang ini lebih condong ke arah kemitraan,” tutur Indy.

Perubahan menyangkut pula target group, bidang prioritas, hingga sistem seleksi, meski belum total. “Saat ini sedang dicari model seperti apa yang cocok dengan basis kerjasama atau kemitraan,” papar Indy sambil menjelaskan, Nuffic Neso Indonesia merupakan organisasi non-profit yang ditunjuk resmi dan didanai pemerintah Belanda untuk menangani berbagai hal berkaitan dengan pendidikan tinggi Belanda.

StuNed merupakan program beasiswa bilateral antara Belanda dan Indonesia bertujuan membantu pembangunan Indonesia melalui peningkatan sumberdaya manusianya. Penerima beasiswa dapat mengikuti program master atau short course. Sosialisasi yang sama juga digelar di Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Dari sisi jumlah, mahasiswa asal Indonesia di Belanda menduduki peringkat kelima dibandingkan negara-negara lain. Negara terbanyak yang mengirimkan mahasiswanya, tetap Jerman. Berikutnya Tiongkok. “Kota-kota di Belanda sering pula disebut-sebut sebagai best millenial city sehingga banyak disukai anak-anak muda,” kata Indy. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan