Fakultas Sastra USD Segera Memiliki Gedung Baru

Gedung Sastra: (kiri-kanan) Ketua panitia pembangunan Andreas Sugijopranoto, Rektor USD Eka Priyatma, Wakil Rektor II Aufridus Atmadi, menjelaskan seputar pembangunan gedung fakultas sastra, di kampus setempat, Senin (2/7).

Gedung Sastra: (kiri-kanan) Ketua panitia pembangunan Andreas Sugijopranoto, Rektor USD Eka Priyatma, Wakil Rektor II Aufridus Atmadi, menjelaskan seputar pembangunan gedung fakultas sastra, di kampus setempat, Senin (2/7).

JOGJA – Memanfaatkan lahan yang sudah ada, fakultas sastra USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta segera memiliki gedung baru setinggi enam lantai, di kompleks kampus setempat, Mrican, Sleman, DIY. Telah mengantongi IMB (Izin Mendirikan Bangunan) saat ini telah dimulai pembangunan konstruksi. Rektorat mengharapkan pembangunan bisa berjalan lancar sesuai jadual yang telah ditetapkan.

“Memang beberapa waktu lalu sempat muncul keberatan dari kepala pedukuhan setempat, namun berbekal IMB yang proses pengajuannya dimulai sejak empat tahun lalu, pembangunan akan berjalan terus hingga gedung baru itu bisa difungsikan satu atau satu setangah tahun ke depan,” tutur Rektor USD J Eka Priyatma, di kampus setempat, Senin (2/7).

Eka memang berjanji akan terus membangun komunikasi dengan warga setempat, terutama dengan kepala dukuh, namun berbekal IMB yang telah terbit USD bertekad akan terus meneruskan pembangunan konstruksi. “Bahkan sebenarnya, kami telah menggelar syukuran atau semacam kenduri dengan mengundang segenap warga sekitar sebelum memulai pembangunan sekaligus menjelaskan rencana pembangunan gedung tersebut, namun ternyata muncul juga sikap keberatan dari kepala dukuh setempat,” katanya.

Ia pun mengakui, saat kenduri yang menandai akan dimulainya pembangunan gedung tersebut, kepala dukuh setempat sempat mengatakan acara itu tidak bisa dianggap sebagai sosialisasi. Tapi berdasarkan Perbup terbaru, setiap pembangunan di atas lahan yang semula telah difungsikan, tidak perlu ada sosialisasi. “Meski begitu, kami tetap kulonuwun dengan warga, terutama yang berbatasan langsung dengan pembangunan gedung tersebut. Dan mereka menyatakan tak keberatan dengan pembangunan gedung tersebut. Agak aneh jika kemudian justru kepala dukuh menyatakan keberatan,” tandas Eka.

Bisa saja pihak universitas bersikukuh tetap meneruskan pembangunan konstruksi, alias meneruskan pekerjaan pengecoran, tapi rektorat tetap menghendaki terjalinnya komunikasi yang baik sehingga pembangunan gedung bisa berjalan hingga akhir pembangunan nantinya. “Kami sudah pernah mengundang kepala dukuh, tapi tak pernah datang. Terakhir ini kami sedang mengutus seorang karyawan yang kebetulan juga warga setempat agar terjalin komunikasi yang baik,” papar Eka kemudian.

Pihak kontraktor, Markus Suhardoko, selaku manajer proyek pun mengaku telah menyampaikan jadual pengecoran kepada pedukuhan setempat. “Meski diakui tetap akan muncul gangguan seperti bising dan sejenisnya, namun semua itu telah kami upayakan seminimal mungkin. Begitu pula dengan kemungkinan gangguan lalu lintas. Juga cor semen yang mungkin tercecer di jalan, kami upayakan segera dibersihkan,” tuturnya.

Karena sebenarnya tidak ada keluhan langsung dari warga, ketua panitia pembangunan Romo Dr Ir Andreas Sugijopranoto SJ menyatakan, akan tetap melanjutkan pembangunan gedung fakultas sastra tersebut. “Sambil terus berupaya menjalin komunikasi yang baik dengan warga setempat, kami ingin pembangunan bisa terus berjalan sesuai jadual yang telah direncanakan demi menghindari dampak yang lebih merugikan,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan