Fasilitas Radioterapi Tak Sebanding Penderita Kanker

 Prof dr Soehartati pada Rakornas Bapeten di Jogjakarta, Jumat (7/4).
JOGJA – Radioterapi merupakan tonggak penanganan atau pengobatan penyakit kanker. Sayang, jumlah fasilitas radioterapi di Indonesia saat ini belum sebanding bahkan jauh dari jumlah penderita kanker. Idealnya, rasionya 1:1.000.000. Satu fasilitas untuk satu juta orang. Rasio di Indonesia sekarang, 1:3.500.000.
“Jumlah fasilitas radioterapi masih sangat minim. Hanya puluhan rumah sakit yang memiliki,” ungkap Ketua PORA (Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi) Indonesia, Prof Dr dr Soehartati A Gondhowiardjo SpRad K(Onk), di sela rakornas ‘Keselamatan Radiasi dan Keamanan Sumber Radioaktif pada Fasilitas Radioterapi’, di Hotel Harper Jogjakarta, Jumat (7/4).
Rerata angka kejadian kanker saat ini 1:1.000 per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, berarti kira-kira ada sekitar 260.000 pasien kanker per tahun. Dari jumlah itu, 140.000 pasien memerlukan radiasi per tahun. “Jadi, jumlah fasilitas radioterapi yang kita miliki saat ini masih jauh dari cukup,” tandas Soehartati.
Tidak mudah, memang, bagi rumah sakit untuk memiliki fasilitas radioterapi. Jaminan keamanannya sangat ketat. Mulai dari perencanaan, desain maupun struktur bangunannya harus memenuhi persyaratan yang sangat ketat. “Begitu fasilitas itu terpasang, tak boleh ada kebocoran sedikit pun karena kita menghadapi radioaktif, sesuatu yang tidak berbau, berasa, dan berwarna,” tutur Soehartati kemudian.
Direktur Perizinan FRZR-Bapeten (Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif – Badan Pengawas Tenaga Nuklir), Ir Zainal Arifin, membenarkan hal itu. “Meski sudah ada di Kalimantan, Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Utara, dan tentu saja Jawa tapi jumlahnya masih sangat sedikit,” katanya.
Tak menyebut rumah sakit mana saja, Zainal menuturkan, saat ini ada 16 rumah sakit yang memanfaatkan 22 unit Teleterapi Co-60 dengan lima unit di antaranya proses disposal atau pelimbahan. Tiga rumah sakit memanfaatkan tiga unit Brakhiterapi Co-60, dua rumah sakit yang masih memiliki dua unit brakiterapi Cs-137 (curietron) yang sudah tidak operasional, bahkan salah satu di antaranya stuck source di mesin.
Ada pula 13 rumah sakit yang mengoperasikan 14 unit brakiterapi Ir-192, dan 21 rumah sakit yang mengoperasikan 26 unit Linac energi 10 MV atau lebih, empat rumah sakit yang mengoperasikan empat unit Linac energi 6 MV, satu rumah sakit mengoperasikan satu unit tomoterapi, satu rumah sakit mengoperasikan satu unit gamma knife, serta dua 2 rumah sakit mengoperasikan blood irradiator dengan Co-60.
Beberapa rumah sakit tahun ini sedang pada tahap instalasi dan komisioning. Antara lain, lima rumah sakit yang akan mengoperasikan lima unit Linac energi 10 MV, satu rumah sakit akan mengoperasikan dua unit Linac energi 6 MV, satu rumah sakit akan mengoperasikan satu unit Teleterapi Co-60, dan satu rumah sakit akan mengoperasikan satu unit Brakhiterapi Ir-192.
Untuk 2017 dan 2018 terdapat rumah sakit yang sedang membangun fasilitas radioterapi. Masing-masing sembilan rumah sakit sedang membangun fasilitas Linac energi 10 MV atau lebih, lima rumah sakit sedang membangun fasilitas Linac energi 6 MV, satu rumah sakit sedang membangun satu unit Teleterapi Co-60, satu rumah sakit sedang membangun satu unit Brakhiterapi Co-60, satu rumah sakit sedang membangun satu unit Brakhiterapi Ir-192. “Pada 2018 diperkirakan ada dua rumah sakit yang akan membangun fasilitas radioterapi,” papar Zainal. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan