Filantropi Harus Bangkitkan Kesadaran

Dr H Haedar Nashir

Dr H Haedar Nashir

JOGJA – Gerakan filantropi, gerakan zakat, infak, dan sedekah, guna memberdayakan umat, tak seharusnya hanya merupakan gerakan pengumpulan. Sudah saatnya ditingkatkan menjadi gerakan membangkitkan kesadaran. Menjadikan kesadaran untuk melawan konsumerisme, rasionalitas, maupun instrumentalisme.

“Seringkali kita mudah sekali mengeluarkan banyak uang ketika berada di pusat perbelanjaan. Tapi begitu disodori kotak amal, misalnya, berpikir seribu kali. Konsumerisme memang lebih besar ketimbang kesadaran untuk berbagi. Semoga saja ini tidak benar. Hanya pemikiran saya saja,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir, pada pembukaan Ziska Lifestyle Festival, di Sportorium UMY, Jogjakarta, Jumat (7/12).

Ziska Lifestyle Festival merupakan acara yang digelar oleh LazisMU (Lembaga Zakat Infaq Shadaqah Muhammadiyah) guna mengukuhkan gerakan filantropi organisasi kemasyarakatan itu. “Dalam acara ini pula diselenggarakan rakernas yang diikuti oelh sembilan puluh delegasi dari kantor perwakilan Muhammadiyah se Indonesia,” tutur Ketua LazisMU PP Muhammadiyah, Hilman Latief.

Selain itu digelar pula Amil Camp yang dilakukan di Kaliurang, Jogjakarta. “Pada camp inilah para peserta bisa saling berbagi, bertukar pengalaman dari daerah asal masing-masing guna saling menyemangati untuk lebih mengembangkan gerakan filantropi Islam,” imbuh Hilman.

Sedangkan di dalam rakernas, ujar Hilman kemudian, diharapkan akan mampu merumuskan capaian, strategi, maupun target untuk 2019 mendatang. “Sekaligus rumusan untuk lebih menyinergikan gerak Majelis, Lembaga, dan Organisasi Otonom di bawah payung Muhammadiyah,” katanya lebih jauh.

Gerakan filantropi, menurut Haedar, sangat penting. Terutama guna mengikis kemiskinan di antara umat. “Banyak konflik jika dalam kondisi miskin. Muncul pemikiran marjinal. Bahkan secara politik maupun ekonomi, kaum miskin biasanya akan selalu menjadi objek dan tertindas,” tegasnya.

Menjadi salah satu tugas Muhammadiyah untuk mengangkat derajat kaum bawah ke tengah, dan yang tengah ke atas. “Ini bukan pekerjaan sederhana. Perlu strategi dan gerakan yang kuat. Tapi insya Allah, Muhammadiyah relatif mandiri untuk itu meski masih juga bolong-bolong,” tutur Haedar kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan