FMIPA UNY Gelar ICRIEMS Ke-4

 IMG_20170520_203744
 Khajornsak Buaraphan dari Mahidol University, Thailand.
JOGJA – Menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara, FMIPA UNY menggelar ICRIEMS Ke-4 (The 4th International Conference on Research, Implementation, and Education of Mathematics and Science), di auditorium kampus setempat, Senin-Selasa (15-16/5).
Pembicara yang hadir, Assistant Prof Maitree Inprasitha PhD dari Faculty of Education, Khon Kaen University, Dr Liem Peng Hong dari Nippon Advanced Information Service, Dr Jean WH Yong dari Plant Eco-Physiologist and IUCN Mangrove Red List Coordinator, University of Western Australia and Curtin University, Perth, Australia.
Pembicara lain, Associate Profesor Dr Nor Azowa Ibrahim dari Universiti Putra Malaysia, Assoc Prof Khajornsak Buaraphan PhD dari Mahidol University Thailand, serta Prof Dr Zuhdan Kun Prasetyo MEd dari FMIPA UNY.
Liem Peng Hong membahas tentang akademisi di Jepang yang sedang menghadapi isu dan tantangan di sumberdaya manusia yang bergerak di bidang energi nuklir setelah terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima Dai-ichi pada Maret 2011 lalu.
Saat ini sedang dirancang kurikulum baru untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang mengambil jurusan energi nuklir maupun yang tidak mengambil jurusan energi nuklir. “Ini bisa sangat berguna bagi Indonesia untuk melakukan upaya yang sama dalam perspektif jangka panjang karena penggunaan PLTN masih sangat dimungkinkan di masa yang akan datang,” ujar Peng Hong.
Maitree memaparkan, Thailand sebagai negara berkembang yang mengadaptasi ide-ide dari negara maju, akhirnya dapat mengatasi satu masalah berkepanjangan dalam pembelajaran matematika, khususnya untuk aritmetika bilangan bulat di tingkat sekolah dasar. “Matematika di sekolah telah berubah dari pembelajaran pasif ke pembelajaran aktif. Siswa terlibat dalam matematika yang lebih bermakna.”
Kurikulum dalam pendidikan kita saat ini, tutur Zuhdan, ‘terlihat’ justru menghasilkan pengembangan moral yang bahkan menunjukkan hal negatif. “Ternyata pengembangan kurikulum pendidikan kita harus melihat kembali konsep pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh pendidikan ‘kuno’. Konsep berbasis pendidikan adab,” ujarnya.
Konsep pendidikan itu menekankan ajaran Islam atau adab menjadi sangat penting dan fundamental. “Dengan kata lain, konsep pendidikan tersebut menempatkan adab sebagai dasar pendidikan,” tegas Zuhdan lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan