Gejala Autis Bisa Dideteksi Dari Sinyal Otak

Alvin Sahroni (kiri) dan Imam Djati Widodo.

Alvin Sahroni (kiri) dan Imam Djati Widodo.

SLEMAN – Penggunaan EEG (elektroensefalogram) di dunia medis bukan merupakan barang baru. Tapi dosen Teknik Elektro UII Alvin Sahroni ST MTEng PhD mengembangkannya guna mendeteksi gejala autis maupun sinyal otak pada anak penderita autis. Melalui penelitian lanjutan, dosen yang tercatat pula sebagai salah seorang dari 30 inovator terbesar di Jepang, itu mengharapkan penelitiannya saat ini bisa dijadikan sebagai pelengkap untuk mendiagnosis bahkan melakukan tindakan terapi terhadap anak autis.

“Dengan mengetahui gejala autis pada anak sejak dini, diharapkan terapi yang dilakukan pun bisa lebih akurat. Pengembangan anak autis secara psikologis juga akan bisa dilakukan secara lebih tepat,” ujar Alvin, kepada wartawan, di kampus setempat, Kamis (7/12). Disertasinya tentang analisa EEG pada anak berkebutuhan khusus itupun mengantarkannya meraih gelar doktor dari Computer Science and Electrical Engineering Department, Kumamoto University, Jepang.

Sedikit berbeda dengan tindakan EEG pada umumnya, Alvin menggunakan sedasi Chloral Hydrate untuk menidurkan anak selama 10-15 menit. Ia kemudian melakukan penelitian terhadap 10 anak normal dan 10 anak autis. “Dari sinyal otak yang terekam, aktivitas otak terutama otak depan pada anak autis jauh lebih aktif dibandingkan anak normal. Bahkan dalam kondisi tidur, yang semestinya aktivitas otak juga landai, pada anak autis tak menunjukkan penurunan aktivitas,” jelasnya.

Dengan mengetahui kelainan otak pada bagian depan itu, akan bisa dipahami sejak dini adanya potensi autisme pada anak. Sekaligus akan lebih mudah dipahami tindakan terapi yang harus dilakukan. “Aktivitas otak yang tetap tinggi pada anak meski dalam kondisi tidur, menunjukkan ada neuron otak yang terus bekerja secara sporadis. Ini yang kemudian membuat bagian-bagian pada otak anak susah disinkronkan. Kondisi seperti itulah yang kemudian dapat dilihat dari luar sebagai autisme,” papar Alvin kemudian.

Rata-rata gejala autisme pada anak bisa terlihat saat berusia 2,5 tahun. Tapi jika bisa diketahui secara lebih awal, akan semakin baik karena kemudian bisa segera ditentukan bentuk terapi yang harus dilakukan. “Penggunaan EEG bisa dilakukan bahkan sejak anak lahir. Jadi, semakin cepat mengetahui gejala autisme pada anak akan semakin baik,” ujar Alvin.

Secara kasat mata, menurut Alvin, gejala autisme pada anak bisa dideteksi melalui kontak mata. “Ketika anak diajak bicara dan kemudian tidak mau melakukan kontak mata, atau ketika dipanggil tidak melihat, maka patut dicurigai anak itu menderita autis,” tutur Alvin yang memiliki tiga anak dan dua di antaranya menderita autis itu.

Selain karena dua anaknya menyandang autisme, hal yang kemudian mendorong Alvin melakukan penelitiannya adalah adanya peningkatan yang luar biasa penderita autis di Indonesia. Prediksi, penderita autis dari tahun ke tahun semakin meningkat. Bukan hanya di Indonesia, gejala serupa juga terjadi di belahan dunia manapun.

Sepuluh tahun lalu, jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak. Pada tahun 2000 meningkat menjadi satu per 500 anak. Diperkirakan tahun 2010 satu per 300 anak. Sedangkan tahun 2015 diperkirakan satu per 250 anak. Diperkirakan terdapat kurang lebih 12.800 anak penyandang autisme atau 134.000 penyandang spektrum autis di Indonesia. “Jumlah tersebut setiap tahun terus meningkat,” tandas Alvin.

Dekan Fakultas Teknologi Industri UII, Dr Imam Djati Widodo MEngSc, mengaku sangat bangga dengan capaian Alvin yang mampu bertengger di daftar 30 penemu terbesar di Jepang. Untuk bisa masuk ke daftar itu sangat selektif. “Di Jepang ada penghargaan bagi penemu-penemu muda. Salah satu syaratnya, usianya tak lebih dari tiga puluh tahun. Dan Alvin termasuk satu orang yang menerima penghargaan tersebut,” tuturnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan