Geliat Sosrodipuran Jadi Kampung Wisata

Pameran: Salah satu sudut nDalem Djayaningratan yang dimanfaatkan sebagai ruang pamer karya lukis dan patung, dalam rangka menjadikan Sosrodiuran sebagai kampung wisata.

Pameran: Salah satu sudut nDalem Djayaningratan yang dimanfaatkan sebagai ruang pamer karya lukis dan patung, dalam rangka menjadikan Sosrodipuran sebagai kampung wisata.

JOGJA – Andalkan potensi seni budaya setempat, kampung Sosrodipuran, Gedong Tengen, Jogjakarta mulai kembali menggeliat menjadi kampung wisata. Ndalem Djayaningratan peninggalan anak turunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII pun menegaskan, kampung yang terletak di tengah ingar-bingar Malioboro itu memang layak dijadikan sebagai kampung wisata.

“Sebagai langkah awal, kami menggelar aneka kegiatan seni budaya, sejak 17 Desember lalu. Mulai dari sarasehan budaya, kirab budaya, ketoprak, pesta rakyat, maupun pameran seni budaya,” ungkap ketua panitia gelar Gebyar Seni Budaya Djayaningratan, Rully Permana, di nDalem Djayaningratan, Jalan Dagen, Jogjakarta, Minggu (30/12).

Meski perhelatan itu digelar hingga hampir sebulan, namun panitia hanya mempersiapkan segala sesuatunya sebulan sebelumnya pula. “Semuanya belum sempurna. Ini benar-benar langkah awal bagi kami. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi,” tutur Rully.

Tak terduga, pameran seni budaya yang semestinya berakhir 2 Januari 2019 mampu menarik perhatian banyak pengunjung sehingga panitia pun harus memperpanjang pelaksanaannya. Pameran menampilkan 50 karya lukis dan 10 karya patung dari 32 orang seniman.

“Bukan hanya seniman asal Sosrodipuran, tapi beberapa seniman yang terlibat bahkan berasal dari luar pulau Jawa. Mereka berpartisipasi secara sukarela. Bahkan beberapa telah berjanji akan mengikuti lagi pameran serupa jika digelar tahun depan,” ujar Jajang R Kawentar, kurator pameran tersebut.

Pameran yang akan digelar kembali mulai 3 Januari2019 tak hanya menampilkan karya lukis dan patung tapi mengunjukkan pula edukasi dan bazar batik. Melalui pendampingan salah seorang pengusaha batik di kampung setempat, akan dilakukan edukasi mengenai batik cap, maupun aspek lain terkait batik.

Untuk tahun depan yang akan digelar Juli – Agustus, panitia telah menyiapkan sejumlah agenda acara. Antara lain festival prajurit se Nusantara, dolanan anak Nusantara, maupun tari, budaya, serta ritual Jawa khas Jogjakarta. Sudah ada 15 provinsi yang menyatakan akan turut serta.

“Jika kampung wisata kami ini nantinya sudah berkembang, kami mengangankan para wisatawan dari manapun bisa bersepeda menyusuri gang-gang di kampung kami menikmati kekayaan seni budaya hingga kuliner yang tersedia. Maupun apapun yang ada di kampung kami,” ungkap Rully yang dibenarkan oleh Subroto selaku Ketua RW 04 Sosrodipuran. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan