Gen Z Tidak Anti NKRI

Keberagaman: Projek Manajer Unit Program Convey, Fuad Jabali (tengah berkacamata berpeci), sesaat sebelum menggelar diseminasi hasil penelitian terkait sikap keberagaman di sekolah dan universitas di Indonesia, di kampus UMY, Rabu (20/12).

Keberagaman: Projek Manajer Unit Program Convey, Fuad Jabali (tengah berkacamata berpeci), sesaat sebelum menggelar diseminasi hasil penelitian terkait sikap keberagaman di sekolah dan universitas di Indonesia, di kampus UMY, Rabu (20/12).

JOGJA – Persoalan-persoalan toleransi beragama di Indonesia sempat mengemuka belakangan ini. Seperti masalah-masalah khilafiyah antar-umat Islam, pandangan tentang kelompok Ahmadiyah dan Syiah, serta pandangan tentang kebebasan beragama, dan lain-lain. Sebuah survei menyimpulkan, Gen Z atau orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2014, tidak anti NKRI.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengadakan penelitian terkait sikap keberagamaan di sekolah dan universitas di Indonesia itu. Populasi survei, siswa dan guru tingkat SMA, serta mahasiswa dan dosen perguruan tinggi yang berada di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Populasi survei juga berbasis Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta, serta perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama. Penelitian dilakukan di semua provinsi di Indonesia. “Setiap provinsi dipilih secara acak, satu kabupaten dan satu kota,” jelas Projek Manajer Unit Program Convey, Fuad Jabali PhD dalam acara diseminasi hasil survei dan pembahasannya, bertajuk Ke Manakah Peran Ormas? Peran Muhammadiyah Menghadapi Intoleransi, di kampus UMY, Rabu (20/12).

Total jumlah sampel, papar Fuad kemudian, 2.181 orang. Terdiri dari 1.522 siswa dan 337 mahasiswa serta 264 guru dan 56 dosen pendidikan Agama Islam. Penelitian menggunakan dua alat ukur untuk mengukur tingkat intoleransi dan radikalisme. “Alat ukur Implicit Association Test untuk melihat potensi intoleransi dan radikalisme secara implisit, serta kuesioner self-report dalam menilai intoleransi dan radikalisme serta faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi dan radikalisme,” tambahnya.

Hasil penelitian menunjukkan, ada tiga urutan teratas ormas Islam yang memiliki kedekatan dengan siswa/mahasiswa, yaitu NU, Muhammadiyah, dan FPI. Penelitian juga menggali persepsi mereka tentang Islamisme, hubungan agama dan negara, seperti pandangan mereka tentang Pancasila dan UUD 1945, syariat Islam, negara Islam, jihad, serta kesesuaian Islam dengan demokrasi.

Koordinator projek, Dr Yunita Faela Nisa Psi menjelaskan, hasil penelitian tentang presepsi guru terhadap tujuan PAI (Pendidikan Agama Islam), sebanyak 54,70 persen sangat tidak setuju PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Syi’ah. Kemudian sebanyak 53,60 persen sangat tidak setuju PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Ahmadiyah.

Sedangkan persepsi dosen terhadap tujuan PAI, sebanyak 28,10 persen sangat tidak setuju PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Syi’ah dan Ahmadiyah. “Hasil lain menunjukkan, Gen Z tidak anti dengan NKRI,” tandas Yunita.

Sebanyak 90,16 persen siswa/mahasiswa serta guru/dosen, menurut Yunita, setuju pengamalan Pancasila dan UUD 1945 sejalan dengan amalan Islam. Data lain, 85,00 persen siswa/mahasiswa setuju demokrasi sistem terbaik. Sebanyak 88,82 persen guru/dosen setuju demokrasi sistem terbaik.

Hasil lainnya menunjukkan, sebesar 91,93 persen guru/dosen tidak setuju dan sebesar 80,74 persen siswa/mahasiswa tidak setuju terhadap pernyataan bahwa Pemerintahan Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 adalah thaghut dan kafir. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan