Generasi Milenial Miskin Sentuhan Budaya

Inspiring Talk: Gema Buana Putra (berdiri) di hadapan mahasiswa peserta 'Inspiring Talk and Career Plan Training', di University Club, UGM, Sabtu (18/11).

Inspiring Talk: Gema Buana Putra (berdiri) di hadapan mahasiswa peserta ‘Inspiring Talk and Career Plan Training’, di University Club, UGM, Sabtu (18/11).

JOGJA (jurnaljogja.com) – Anak muda jaman sekarang, yang sering disebut pula sebagai generasi milenial, memiliki kemampuan yang berbeda jauh dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka pun diakui mampu ‘bergerak’ cepat. Terkadang sangat kreatif pula. Hanya saja, mereka kurang sentuhan budaya. Menjadi miskin karakter. Terutama yang berkaitan dengan kearifan lokal.

“Itu saya pikir menjadi problem serius saat ini. Generasi milenial sekarang ini kebanyakan miskin karakter sehingga terlihat seperti tercerabut dari akar budayanya. Hilang jatidiri mereka sebagai bangsa,” ujar Bupati Kulonprogo, DIJ, Hasto Wardoyo, di sela Inspiring Talk and Career Plan Training, kerjasama Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa dengan PTTEP (PTT Exploration and Production Public Company Limited), di University Club, UGM, Bulaksumur, Jogjakarta, Sabtu (18/11).

Boleh saja generasi milenial itu bergerak cepat, melakukan inovasi secanggih apa pun, namun ada sesuatu yang tak boleh dihilangkan. “Bagi generasi muda Indonesia, nilai-nilai Pancasila, misalnya tak boleh dilupakan. Semaju apa pun mereka, nilai-nilai itu tak boleh ditinggalkan karena akan menyangkut jatidiri mereka sebagai warga bangsa,” tandas Hasto.

Manajer Pendidikan Dompet Dhuafa Ahsin Aligori mengemukakan, acara yang mengundang 300 orang mahasiswa itu dimaksudkan untuk meningkatkan softskill mahasiswa agar mereka siap setelah lulus kelak. “Menyangkut target pilihan hidup mereka setelah lulus nanti. Jadi dampak acara hari ini bisa jadi baru akan terasa lima hingga sepuluh tahun ke depan,” jelasnya.

General Manager PTTEP, Titi Thongjen, asal Thailand itu menyatakan, acara ini sangat penting guna membangun sumberdaya manusia yang berkualitas. “SDM berkualitas sangat penting bagi negara mana pun. Tetapi masing-masing negara memiliki kultur yang berbeda-beda sehingga pembangunan SDM di Indonesia, misalnya, tidak bisa disamakan dengan Thailand. Begitu juga sebagai negara agrikultur tak akan bisa benar-benar menyamai negara yang sejak awal merupakan negara industri,” tandasnya.

Di hadapan peserta, Vice President HC Bukalapak, Gema Buana Putra banyak menjabarkan langkah-langkah strategis agar berhasil saat memulai suatu usaha. “Ada sejumlah kiat, antara lain pilihlah jenis usaha yang memiliki dampak luas sehingga konsumen kita pun menjadi tidak terbatas. Inovatif menjadi satu sikap dan sifat yang tak boleh ditinggalkan. Sekali lepas, Anda akan ketinggalan,” tuturnya.

Buana pun menyarankan agar membuka usaha yang sifatnya menyelesaikan masalah bagi konsumen. “Dengan merasakan manfaat barang atau sesuatu yang dibeli, maka konsumen akan puas dan tak berhenti membeli. Usaha kita bisa kontinyu. Namun, kita juga harus sadar diri. Dalam arti memiliki kepercayaan diri yang cukup, memiliki komitmen, bisa dipercaya, dan sikap-sikap lain sejenis,” papar Buana kemudian.

Sikap lain, harus terbuka terutama saat bekerja secara tim. Eksperimen yang dilakukan harus berorientasi hasil. “Selain itu, kita harus menjadikan data sebagai bos. Harus mendasarkan diri pada data sehingga tahu kapan harus memulai, kapan harus berhenti. Yang tak kalah penting, harus selalu bersedia bergandengan tangan. Hasil pasti akan lebih besar ketimbang kita harus bekerja sendiri,” saran Buana lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan