Genjot Internasionalisasi UII Tak Gamang Predikat Islam

Rektor UII: (kiri-kanan) Rohidin, Zaenal Arifin, Fathul Wahid, Imam Djati Widodo, dan Wiryono Raharjo dipercaya mengelola UII sejak dilantik 1 Juni 2018.

Rektor UII: (kiri-kanan) Rohidin, Zaenal Arifin, Fathul Wahid, Imam Djati Widodo, dan Wiryono Raharjo dipercaya mengelola UII sejak dilantik 1 Juni 2018.

JOGJA – Menyandang predikat atau nama Islam, tak membuat UII (Universitas Islam Indonesia) gamang mengembangkan diri ke dunia internasional, dunia global. Tim rektorat, mulai dari rektor hingga wakil rektor IV telah menyiapkan skenario internasionalisasi guna menyiapkan segenap sivitas akademika untuk siap menjadi warga global.

“Internasionalisasi bagi kami, tentang penyiapan warga global. Mahasiswa, dosen, dan UII sebagai institusi harus semakin siap ke depannya,” ungkap Rektor UII Fathul Wahid ST MSc PhD, didampingi Wakil Rektor I Dr Drs Imam Djati Widodo MEngSc, Wakil Rektor II Dr Zaenal Arifin MSi, Wakil Rektor III Dr Drs Rohidin SH MAg, dan Wakil Rektor IV Ir Wiryono Raharjo MArch PhD, kepada wartawan, di Jogjakarta, Selasa (3/7).

Menyandang predikat Islam di dalam namanya, justru membuat UII semakin terdorong untuk mengenalkan Islam yang toleran dan elegan. Islam yang berbeda seperti yang dipersepsikan orang maupun dunia internasional belakangan ini. “Melalui internasionalisasi tersebut kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukan agama yang radikal seperti dipersepsikan sebagian orang,” ujar Fathul.

Melalui internasionalisasi itu pula, UII justru ingin memperkenalkan ke komunitas internasional tentang Islam sebagai agama yang cinta damai. Sekaligus sebagai pendorong untuk terus mengupayakan pengintegrasian antara ilmu pengetahuan dengan Islam. “Islam yang kami dalami dalam hal ini lebih berat ke dunia akademik. Bukan Islam semata-mata sebagai agama, politik, maupun ideologi,” timpal Rohidin.

Wiryono yang hingga saat ini masih merangkap menjabat sebagai Kepala KUI (Kantor Urusan Internasional) UII pun mengaku, tak pernah menemui hambatan ketika harus bersinggungan dengan banyak perguruan tinggi di dunia. “Bahkan sudah tujuh tahun terakhir ini kami selalu menerima mahasiswa asal Australia untuk belajar tentang Islam. Tak terlalu banyak, memang. Namun, setiap semester pasti ada,” katanya.

Selain akreditasi internasional program studi, lanjut Fathul, beragam strategi lain diambil dalam berbagai bentuk. “Antara lain, implementasi kerjasama internasional, peningkatan peran internasional institusi, serta fasilitasi dosen dan mahasiswa untuk berkontribusi dalam komunitas akademik global,” paparnya lebih jauh.

Dikuatkan pula dengan penyelenggaraan IP (International Program) yang ditawarkan 10 program studi, masing-masing Manajemen, Akuntansi, Ilmu Ekonomi, Ilmu Hukum, Teknik Industri, Teknik Sipil, Arsitektur, Ahwal al-Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam), Ilmu Komunikasi, dan Hubungan Internasional. Selain beasiswa secara umum, UII juga menyediakan jatah beasiswa bagi lima orang mahasiswa asal Palestina.

Internasionalisasi diujudkan pula melalui berbagai kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi asing, baik mengenai penelitian, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, hingga kerjasama yang berkaitan dengan entrepreneurial unversity. “Anggaran yang cukup juga kami sediakan untuk memfasilitasi dosen guna mempresentasikan hasil riset dan gagasan mereka dalam beragam konferensi internasional dan publikasi internasional,” tandas Fathul. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan