Gerakan Salafi di Cirebon Era Reformasi

 IMG_20170125_205202
JOGJA (jurnaljogja.com) – Meski jumlah pengikutnya kecil, kelompok  Salafi sebagai kelompok Islam tak lepas dari konflik. Kehadirannya sering memunculkan konflik di tengah masyarakat Cirebon.
“Konflik internal terjadi hanya di kalangan sesama pegiat dakwah Salafi, sedangkan konflik eksternal terjadi antara kelompok Salafi dengan kelompok lain di masyarakat,” ungkap Muhammad Ali dalam promosi doktor Program Studi Agama dan Lintas Budaya di Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta, Senin (23/1).
Dosen Institut Studi Islam Fahmina Cirebon ini menyebutkan faktor penyebab konflik internal antara lain karena perbedaan cara pandang dalam memahami manhajSalaf, ketidakcocokan satu sama lain, dan strategi dakwah yang berseberangan. “Konflik tersebut menjadikan mereka bersitegang dan berseteru,” katanya.
Diakui, dii satu sisi gerakan ini menuai kekaguman karena dakwahnya yang santun. Namun di sisi lain cara penyebaran gerakan ini kerap menimbulkan keresahan bahkan konflik di masyarakat setempat. “Klaim merasa paling Islami dari para pengusung doktrin Salafi membuat masyarakat Cirebon resah,” sebutnya.
Dalam disertasi berjudul “Gerakan Salafi di Cirebon Era Reformasi: Ajaran, Penyebaran, dan Tantangan” dijelaskan, gerakan Salafi merepresentasikan dirinya sebagai subkultur Islam yang berusaha memperbaharui diri dalam proses modernisasi untuk peneguhan moral berlandaskan manhaj Salaf, serta melakukan proses pemurnian tauhid atas berbagai macam praktik bid’ah, syirik, dan tantangan modernitas. Gerakan ini memprioritaskan kepada kontestasi makna sebagai pemegang otoritas fatwa yang bersumber langsung kepada al-Quran dan hadis sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan umat.
 
“Apabila ada anggota gerakan yang melakukan tindakan menyimpang dari manhaj Salaf, maka akan di-tahdzir oleh sesama kelompoknya agar ia kembali kepada jalan lurus Salafi,” jelasnya.
Menurutnya, dengan merepresentasikan model afirmasi gaya hidup dan tetap menjadi pribadi yang agamis, masyarakat Cirebon sekilas terkesima dengan dakwahnya yang santun dan sopan. Namun perbedaan cara pandang dalam memahami manhaj Salaf, ketidakcocokan satu sama lain, serta strategi dakwah yang berseberangan, persoalan serupa juga menjadi pemicu konflik dengan kelompok masyarakat lain. Mereka tak segan berseteru dengan kelompok Islam mainstream dan masyarakat sekitar. Sehingga tak pelak lagi cap teroris, radikal, fundamental, dan semacamnya diarahkan kepada pengikut gerakan ini.
“Meski peristiwa konflik sempat terjadi di beberapa daerah, insiden ini tidak sampai berkembang menjadi konflik horizontal yang lebih besar,” tuturnya.
 Hal ini, menurut  Ali, disebabkan oleh sigapnya pihak berwenang seperti aparat kepolisian Cirebon dan pemerintah desa dalam menangani benih-benih konflik, sikap acuh tak acuh di antara para pengusung Salafi, serta karena masyarakat Cirebon sudah jenuh dengan konflik-konflik yang terjadi.
Untuk mencegah terulangnya konflik kembali, disebutkan tiga hal yang harus menjadi perhatian, yaitu ketegasan pemerintah, penguatan sikap toleransi, serta penguatan sistem hukum dan politik. (bam/rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan