Guru Kesulitan Bikin Karya Ilmiah

IMG_20161111_084346
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Direktur Pascasarjana UAD, Prof Dr Ahmad Mursyidi, didampingi Suparman (kanan) dan Dwi Sulisworo (kiri) saat membuka workshop penulisan karya ilmiah.
JOGJA – Kebanyakan guru mengeluh merasa sulit membikin karya ilmiah. Tak terkecuali guru matematika untuk tingkat SMP dan SMA. Sebagian dari mereka mengaku kesulitan saat harus menjabarkan hasil penelitian ke dalam satu bentuk tulisan karya ilmiah. Terlebih untuk bisa dimuat di suatu jurnal ilmiah.
“Karena itulah kami mengundang beberapa guru SMP dan SMA untuk bersama-sama belajar bagaimana menjabarkan hasil penelitian menjadisatu karya ilmiah,” ujar Kaprodi Magister Pendidikan Matematika UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr Suparman MSi DEA, di sela workshop penulisan karya ilmiah bagi guru matematika, di kampus setempat, Rabu (9/11).
Selain membantu menemukan cara menulis karya ilmiah, lanjut Suparman, workshop setengah hari itu juga membantu para guru untuk menemukan berbagai referensi terutama melalui internet. “Minimnya referensi untuk menulis karya ilmiah itu pun menjadi hal yang sering dikeluhkan para guru,” katanya kemudian.
Mempublikasikan artikel atau karya ilmiah mereka ke jurnal-jurnal, di level lokal, nasional, maupun internasional juga menjadi hal lain yang sering dikeluhkan. “Akhirnya, persoalan ini berpengaruh pada penilaian kinerja dan kompetensi para guru tersebut,” tutur Suparman.
Kesulitan lain yang sering dikeluhkan, menentukan metodologi penelitian sebagai bahan atau tema penelitian dan artikel ilmiah yang dibuat. “Para guru sebenarnya bisa mengembangkan penelitian dan karya ilmiah dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka sebagai tenaga pendidik,” tandas Suparman.
Berbagai persoalan pendidikan dan pembelajaran pada peserta didik dapat dijadikan tema atau isu-isu dari karya ilmiah. “Dari persoalan yang ditemukan di kelas, guru bisa mengembangkan inovasi atau solusi lain yang hasilnya dapat ditulis sebagai karya ilmiah,” saran Suparman lebih jauh.
Dosen Pascasarjana UAD, Dr Dwi Sulisworo selaku narasumber mengemukakan, untuk menulis karya ilmiah dibutuhkan target jurnal, yang seringkali jauh lebih penting ketimbang sekadar penyiapan karya ilmiah. “Lakukan analisis jurnal-jurnal yang potensial dan pilih salah satu untuk target publikasi karya ilmiah,” sarannya.
Pengecekan bahasa dan kemungkinan plagiasi, menurut Dwi, pun tak kalah penting. “Menjadi keharusan agar karya ilmiah yang dihasilkan tidak sama dengan karya-karya yang sudah diterbitkan sebelumnya,” tutur Dwi kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan