Hanya 0,03 Persen Sarjana Teknik Bersertifikat Profesi

Insinyur: Rudy Purwondho (kanan) dan Sukamta menjelaskan tentang prodi Program Profesi Insinyur UMY, di kampus setempat, Jumat (11/5).

Insinyur: Rudy Purwondho (kanan) dan Sukamta menjelaskan tentang prodi Program Profesi Insinyur UMY, di kampus setempat, Jumat (11/5).

JOGJA – Gelar sarjana teknik asal perguruan tinggi di Indonesia hanya disetarakan dengan bachelor di dunia kerja internasional. Karenanya, gelar atau sertifikat profesi insinyur perlu dimiliki para insinyur kita jika ingin ‘dihargai’ setara dengan insinyur-insinyur lain asal negara lain. Kemenristekdikti mendorong para insinyur untuk mengantongi gelar profesi keinsinyuran itu. UMY menjadi salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk untuk menyelenggarakan program studi profesi insinyur. Terlebih hanya 0,03 persen dari sarjana teknik di Indonesia sekarang ini yang telah mengantongi gelar profesi insinyur.

“Ada sekitar sembilan ratus ribu sarjana teknik di Indonesia. Dari jumlah itu, baru tiga ratus orang yang telah mengantongi gelar profesi insinyur,” ungkap Ketua Tim Keinsinyuran Kemenristekdikti, Ir Rudy Purwondho MSc MBA IPM, di sela pembukaan prodi PPI UMY (Program Profesi Insinyur Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), di kampus setempat, Jumat (11/5).

Tanpa mengantongi gelar profesi insunyur, lanjut Rudy, keahlian para insinyur Indonesia tidak dihargai sebagaimana mestinya. Tanpa gelar profesi itu pula para insinyur Indonesia tidak bisa menerima tanggungjawab jabatan tertentu sehingga selalu ‘dikalahkan’ ketika harus disandingkan dengan insinyur lain dari luar negeri. “Untuk lingkup ASEAN saja, insinyur Indonesia kalah oleh insinyur dari negara lain. Semua negara ASEAN sudah menerapkan program profesi tersebut, kecuali Indonesia dan Laos,” tandasnya.

Guna mengejar ketertinggalan itu, pemerintah melalui UU 11/2014 tentang Keinsinyuran mendorong para sarjana teknik kita untuk mengantongi sertifikat atau gelar profesi insinyur agar dalam praktik di dunia kerja internasional, keahlian mereka disetarakan dengan keahlian insinyur lain dari negara lain. “Secara kemampuan, sarjana teknik kita tidak kalah. Hanya pengakuan melalui gelar profesi insinyur itu yang belum dimiliki,” tutur Rudy kemudian.

Dari undang-undang 2014 tersebut, baru dua tahun kemudian atau 2016 dijalankan. Kemenristekdikti telah menunjuk 40 perguruan tinggi se Indonesia untuk menyelenggarakan program profesi insinyur. Namun, dari 40 perguruan tinggi tersebut, baru 22 perguruan tinggi yang jalan. “UMY yang telah mempersiapkan diri sejak 2016, baru bisa memenuhi segala persyaratan dan bisa membuka prodi PPI tahun ini,” jelas Wakil Rektor UMY bidang Akademik, Dr Sukamta.

Untuk pembukaan awal, papar Sukamta lebih jauh, UMY membuka untuk satu kelas dengan kuota jumlah mahasiswa sekitar 50 orang. Prodi PPI terbuka untuk sarjana teknik dan sarjana pertanian dari mana saja. Tidak harus lulusan UMY. “Sedangkan untuk insinyur yang telah memiliki pengalaman kerja, bisa disetarakan atau transfer kredit sehingga tidak harus mengikuti perkuliahan secara penuh.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan