Hanya 1,2 Persen Insinyur Profesional Indonesia

Insinyur: Direktur Eksekutif PII Ir Rudianto Handoyo IPM (kiri) dan Ketua Tim Ahli Keinsinyuran Kemenristekdikti Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc IPU (tengah) menyampaikan kuliah umum pada peluncuran PSPPI FT UNY, di kampus setempat, Selasa (5/12).

Insinyur: Direktur Eksekutif PII Ir Rudianto Handoyo IPM (kiri) dan Ketua Tim Ahli Keinsinyuran Kemenristekdikti Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc IPU (tengah) menyampaikan kuliah umum pada peluncuran PSPPI FT UNY, di kampus setempat, Selasa (5/12).

JOGJA – Indonesia saat ini memiliki tak kurang dari 750.000 orang insinyur. Dari jumlah itu, hanya 9.000 orang atau 1,2 persen saja yang berhak menyandang sebutan sebagai insinyur profesional. Diharapkan jumlah insinyur profesional bisa meningkat tajam dengan dibukanya PSPPI (Program Studi Program Profesi Insinyur) di Fakultas Teknik UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Di sisi lain, Indonesia kekurangan sumberdaya insinyur. Pada 2018 diprediksi Indonesia kekurangan 69.000 orang insinyur.

“Untuk jumlah insinyur profesional, saat ini kita masih kalah dengan Malaysia, Philipina, maupun Thailand,” ungkap Direktur Eksekutif PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Ir Rudianto Handoyo IPM, saat menyampaikan kuliah umum berkenaan dengan diluncurkannya PSPPI FT UNY, di kampus setempat, Karangmalang, Jogjakarta, Selasa (5/12).

Jika Indonesia hanya memiliki 9.000 insinyur profesional, Malaysia saat ini telah memiliki 11.170 insinyur profesional. Philipina lebih banyak lagi, 14.250 orang. Sedangkan Thailand, telah mencapai 23.000 insinyur profesional. “Semoga PSPPI bisa segera meluluskan, sehingga jumlah insinyur profesional kita akan bertambah. Ini terutama untuk mengantisipasi datangnya investasi asing beserta sumberdaya manusianya yang berstandar internasional,” tutur Rudianto kemudian.

Ia pun menginformasikan saat ini banyak insinyur Philipina maupun Thailand giat belajar bahasa Indonesia. Mereka sewaktu-waktu akan bisa masuk ke Indonesia karena ada kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). “Insinyur Bangladesh dan India pun sebenarnya ingin berkiprah di Indonesia, tapi mereka tidak begitu saja bisa masuk karena tidak ada kesepakatan MEA,” papar Rudianto.

Berkaitan dengan kekurangan SDM insinyur, lanjut Rudianto, untuk 2017 Indonesia membutuhkan 67.000 insinyur. Tersedia 18.000 insinyur. Sehingga ada kekurangan 39.000 insinyur. Untuk 2018 diprediksi jumlah insinyur ada 19.000 orang, sementara kebutuhannya mencapai 88.000 orang. Dengan demikian pada tahun depan diprediksi kita masih kekurangan 69.000 SDM insinyur.

Rudianto pun memaparkan, dari 103.000 sarjana teknik yang tercatat pada 2016, sebanyak 55 persennya merupakan sarjana teknik ilmu komputer. Selebihnya baru sarjana teknik sipil, elektro, mesin, arsitek, teknik industri, teknik kimia, dan lainnya. Kemudian dari 47.000 sarjana teknik baru, diharapkan 30 persennya menjadi insinyur. “Dari sarjana teknik yang ada, memang tidak semuanya berkiprah sebagai insinyur,” tandasnya.

Ketua Tim Ahli Keinsinyuran Kemenristekdikti, Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc IPU, antara lain memaparkan tentang materi perkuliahan untuk program profesi insinyur. Ada matakuliah yang bisa dilaksanakan di kampus, seperti kode etik dan etika profesi insinyur, profesioanlisme, serta keselamatan, kesehatan dan keamanan kerja dan lingkungan. Ada pula yang dilaksanakan terutama di tempat praktik keinsinyuran atau tempat kerja, seperti praktik keinsinyuran, studi kasus, serta sebagai pemateri pada seminar, workshop, diskusi.

Dekan FT UNY, Dr Widarto MPd mengemukakan, UNY menjadi salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk atau dipercaya Kemenristekdikti menyelenggarakan program profesi insinyur. Total ada 40 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Terdiri dari 26 perguruan tinggi negeri dan 14 perguruan tinggi swasta. “Selain UNY, UGM juga menjadi salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta yang ditunjuk membuka program profesi tersebut,” paparnya seraya menjelaskan, hingga saat ini PSPPI FT UNY telah memiliki 22 mahasiswa yang merupakan dosen FT UNY dan dua orang dari perguruan tinggi lain. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan