Hanya Empat Pemda Dalam Tahapan Pemanfaatan e-Gov

R Teduh Dirgahayu (kanan) dan Novi Prisma Yunita

R Teduh Dirgahayu (kanan) dan Novi Prisma Yunita

JOGJA – Perkembangan e-Government di Indonesia terbagi ke dalam empat tahapan. Hasil klasifikasi 543 website pemprov, pemkab/pemkot menunjukkan, 83 pemda masih dalam tahap pertama (persiapan), 341 dalam tahap kedua (pematangan), 115 dalam tahap ketiga (pemantapan), dan hanya empat pemda yang telah masuk ke dalam tahap keempat (pemanfaatan).

“Menggunakan kombinasi dari beberapa metode penelitian, diketahui perkembangan e-Government di Indonesia masih dalam tahapan pematangan,” ujar Ketua Program Studi Teknik Informatika, Program Sarjana FTI UII, Dr R Teduh Dirgahayu ST MSc, di kampus setempat, Rabu (30/1).

Perkembangan e-Gov (e-Government) di Indonesia rata-rata masih ada pada tahap pematangan. Pemda telah menyediakan media interaksi pada website serta telah menyediakan antaramuka keterhubungan (link) dengan lembaga lain.

Artinya perkembangan e-Gov masih ada di tahap digitalisasi atau automasi, yakni mengubah sesuatu yang manual menjadi digital/otomatis. “Pada tahapan ini pemda belum menyediakan suatu layanan transaksi publik interaktif serta belum menerapkan integrasi pada pengembangannya,” tutur Teduh.

Surabaya sebagai kota yang mencapai tahapan pemanfaatan, memaparkan beberapa hal yang dianggap melaksanakan e-Gov, antara lain menggunakan paradigma performance-oriented dalam pengembangan aplikasi, melakukan pengadaan perangkat TI secara terpusat, serta merespon dengan serius regulasi-regulasi terkait e-Gov dan merealisasikannya.

e-Government yang terdepan juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan pemerintah daerah berikut kebijakan-kebijakannya,” tandas Teduh yang juga dosen Magister Teknik Informatika FTI UII itu.

Menggunakan layanan elektronik e-Health Surabaya sebagai studi kasus, e-Health dianggap mudah digunakan dan mudah dipahami oleh penggunanya. “Pengguna mengklaim dapat menyelesaikan suatu tujuan tertentu dalam e-Health secara mandiri,” timpal Novi Prisma Yunita dari Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, konsentrasi Sistem Informasi Enterprise.

Fitur audio pada e-Health diklaim memudahkan penggunaan layanan, selain itu pengguna juga mengklaim, e-Health dapat menghemat waktu mereka untuk berkonsultasi ke sarana kesehatan. “Secara umum, penggunanya menerima e-Health secara baik dan puas terhadap layanan itu,” tutur Novi kemudian.

Praktik pelaksanaan e-Gov di Surabaya secara tak langsung sebenarnya berupa upaya-upaya untuk mengeliminasi faktor dan alasan kegagalan dalam pengembangan proyek, khususnya faktor dan alasan yang terkait dengan pengembangan sistem informasi dalam konteks e-Gov yang berbeda dengan pengembangan sistem pada umumnya.

Surabaya menggunakan suatu paradigma bernama performance-oriented di mana proyek sistem informasi tak dianggap sebagai suatu proyek fungsional yang dikelola secara mandiri. “Performance-oriented juga berarti, pengelolaan dilakukan secara terpusat oleh Dinkominfo sehingga menghilangkan ketergantungan dengan pihak luar,” papar Novi lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan