Hanya Lima Persen Masyarakat Bugar Secara Jasmani

Prof Dr Yustinus Sukarmin MS

Prof Dr Yustinus Sukarmin MS

JOGJA – Dengan iptek manusia benar-benar dimanjakan. Sampai dibuat terlena hingga mengubah gaya hidup aktif menjadi gaya hidup pasif. Akibatnya, berdasarkan ukuran bugar secara jasmani, hanya 5-6 persen pelajar dan masyarakat Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai bugar secara jasmani. Ini bukan masalah sepele. Ini merupakan masalah bersama yang harus diatasi secara bersama pula.

Manusia tak kuasa lagi menolak iming-iming kemudahan dan kenikmatan yang dijanjikan teknologi. Lebih memilih jasa teknologi daripada berusaha menggunakan tenaga alami. “Manusia menjadi malas melakukan aktivitas jasmani. Ini langsung berpengaruh pada kebugaran jasmaninya,” ujar Guru Besar bidang Ilmu Kebugaran Jasmani pada FIK UNY (Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta), Prof Dr Yustinus Sukarmin MS, saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya, di kampus setempat, Rabu (9/5).

Mengutip hasil penelitian Depdiknas pada 2009 tentang tingkat kebugaran jasmani peserta didik SD, SMP, SMA, dan SMK, Sukarmin menunjukkan, hanya enam persen dari para peserta didik itu yang masuk kategori baik. Dan nol persen untuk kategori baik sekali. “Jika yang dikatakan bugar secara jasmani itu yang berkategori baik dan baik sekali, artinya hanya lima sampai dengan enam persen pelajar dan masyarakat Indonesia yang bugar secara jasmani,” tandasnya.

Membangun kebugaran jasmani anak tak semudah orang membalikkan telapak tangan. Dibutuhan kesabaran, kesungguhan, kedisiplinan, ketulusan, dan kerja keras yang melibatkan banyak pihak, di antaranya orangtua (keluarga), guru Penjasorkes (sekolah), dan kementerian terkait (pemerintah) untuk mewujudkan impian itu.

Kebugaran jasmani dibangun dengan melibatkan berbagai komponen secara simultan. Antara lain berolahraga atau melakukan aktivitas jasmani secara teratur, beristirahat atau tidur secukupnya, dan makan makanan bergizi secara teratur. “Kebugaran jasmani merupakan salah satu aspek dari kebugaran menyeluruh yang memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk menjalankan hidup secara produktif dan dapat menyesuaikan diri dengan setiap pembebanan fisik secara layak,” kata Sukarmin.

Peran orangtua perlu dioptimalkan untuk bersama-sama dengan guru penjas-orkes membangun gaya hidup aktif – sehat anak. Hanya dengan cara demikian anak menyukai aktivitas jasmani bukan hanya pada saat mengikuti pelajaran penjas-orkes di sekolah, melainkan juga ketika berada di luar sekolah atau di rumah bersama dengan keluarga, atas dasar kesadaran sendiri.

Guru Penjasorkes merupakan orang yang paling bertanggungjawab terhadap pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani para peserta didik melalui aktivitas jasmani dan olahraga. “Melalui pelajaran di sekolah, guru Penjasorkes mempunyai tugas mengubah gaya hidup niraktif menjadi gaya hidup aktif,” papar Sukarmin.

Ia pun mengharapkan, para orangtua jangan pernah berhenti memberikan dorongan pada anak-anak untuk tetap melakukan aktivitas jasmani karena kebugaran jasmani merupakan sebuah proses yang tidak pernah berhenti. “Orangtua harus berperan sebagai motivator, fasilitator dan inspirator,” tegas Sukarmin seraya menyatakan, orangtua pun harus memberikan teladan yang baik dengan rajin berolahraga. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan