HMKI Terancam Pecah

 IMG_20170822_130447
Timbul Raharjo (kiri) dan Yogi Anindya Putra.

JOGJA – Belum tiga tahun terbentuk, HMKI (Himpunan Mebel dan Kerajinan Indonesia) gabungan antara HMKRI (Himpunan Mebel dan Kerajinan RI) dengan Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia), kini sudah menghadapi inkonsistensi anggotanya. Bayang-bayang perpecahan pun mulai muncul. Ironisnya, sumber perpecahan justru datang dari induk organisasi mereka, HMKI Pusat.

“Beberapa anggota keluar dan membentuk Asmindo lagi. Ada juga HMKI Sleman. Jelas, itu menggerus soliditas kami. Celakanya, justru HMKI Pusat yang seolah merestui munculnya HMKI Sleman,” ujar Ketua HMKI DIY, Timbul Raharjo, di sela Rakerda Ke-2 HMKI DIY, di Hotel Tara Jogjakarta, Selasa (15/8).

Timbul mengaku tidak tahu persis maunya pengurus pusat. Ia hanya menduga-duga karena muncul ketidakrelaan pengurus pusat terhadap pengurus daerah yang lebih maju. Ketenaran dan kebesaran Jiffina (gelaran pameran mebel dan kerajinan tingkat internasional – red.) yang merupakan ide dan inisiatif HMKI DIY diduga menjadi salah satu penyebab ‘iri hati’ pengurus pusat.

“Seakan pusat tidak rela jika ada daerah yang maju. Barangkali karena Jiffina itu kami dianggap terlalu kreatif dan mungkin dianggap ‘mengalahkan’ pusat,” tutur Timbul, dibenarkan Sekretaris HMKI DIY Yogi Anindya Putra.

Rakerda yang berlangsung satu hari itu terutama membahas kinerja satu tahun belakangan dan program kerja satu tahun ke depan. “Ya, terutama mengevaluasi hasil kinerja kepengurusan satu tahun belakangan dan perencanaan program tahun depan,” tandas Timbul.

Pertemuan yang dihadiri hampir seluruh 150 orang anggota HMKI DIY, itu juga membicarakan persoalan serta pasang surut bisnis mebel dan kerajinan sekarang ini. “Terus terang hengkangnya beberapa anggota, sedikit memberi efek. Bisnis mebel dan kerajinan di Jogja menjadi sedikit merosot,” papar Timbul.

Hal lain yang terus dibahas adalah realisasi klaster industri bagi anggota HMKI. Sudah sejak dua tahun lalu, sebenarnya gagasan tentang klaster industri itu dilontarkan. “Bukan berhenti, tapi sampai sekarang kami terus memproses adanya klaster industri itu,” ujar Timbul.

Di dalam klaster itu nantinya para anggota HMKI dapat membuka tempat produksi, workshop dan showroom yang bisa dikunjungi calon pembeli. “Jika sudah teralisir secara penuh, klaster itu bisa menjadi tujuan calon pembeli untuk memesan produk. Atau, bahkan bisa menjadi tujuan wisata,” jelas Timbul. (rul).

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan