Ijazah Saja Tak Cukup Bagi Lulusan Perguruan Tinggi

Sttnas

Dokumen STTNas

 JOGJA- Persaingan yang makin ketat saat ini menjadikan lulusan PT (perguruan tinggi) tak cukup hanya mengandalkan ijasah untuk bisa terjun ke dunia kerja. Kampus harus membekali lulusannya dengan keterampilan pendukung sesuai kompetensi masing-masing prodi (program studi), yang bisa dibuktikan melalui sebuah sertifikat.

Keterampilan pendukung atau kompetensi yang bisa direpresentasikan melalui sebuah sertifikat itu pun harus memiliki standar internasional melalui uji kompetensi yang dilakukan asesor berlinsensi. Dengan demikian keterampilan atau kompetensi tersebut diakui dunia industri hingga ke level global.

“Upaya semacam itu yang kini juga sedang kami lakukan. Kampus menyiapkan beberapa dosen sebagai asesor untuk melakukan uji kompetensi profesi agar lulusan nantinya mendapatkan sertifikasi profesi,” ujar Ketua STTNas Jogjakarta, Ir Ircham MT, di sela pertemuan Ikatenas (Ikatan Alumni STTNas), di Jogjakarta, Minggu (3/7).

Sertifikasi profesi, menurut Ircham, dapat menjadi bekal lulusan dalam bersaing dengan tenaga kerja asing di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) ini. “Kekhususan kompetensi yang sudah tersertifikasi akan memudahkan dunia industri untuk menyerap tenaga kerja sesuai kebutuhan mereka,” tandasnya.

Kampus juga dapat menggandeng alumni untuk meningkatkan penyerapan lulusan ke dunia kerja. Jaringan yang dimiliki para alumni akan membuka peluang kerja yang lebih luas. “Karena itulah pertemuan para alumni kali ini menjadi sangat penting,” tutur Ircham kemudian.

Melalui kerjasama alumni pula, kampus bisa terus memperbarui kurikulum sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar. Artinya, pembelajaran mahasiswa tak akan mengalami ketertinggalan atau ketidaksesuaian dengan perkembangan jaman maupun yang dimaui dunia industri, dunia kerja.

“Para alumni yang saat ini telah terjun langsung di lapangan, saya kira mereka sangat tahu kebutuhan pasar atau dunia kerja. Melalui kerjasama dengan kampus, para alumni secara tidak langsung bisa berperan mengembangkan kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Ircham.

Salah seorang alumni STTNas, Agus Setyo Margono, yang saat ini menggeluti bidang konstruksi menyambut baik pengembangan program sertifikasi profesi tersebut. Dunia industri pasti akan merasa tertolong untuk mendapatkan tenaga kerja sesuai kebutuhan mereka.

“Ada beberapa syarat yang biasanya diminta perusahaan bagi tenaga kerja yang dibutuhkan. Dengan adanya sertifikat profesi, perusahaan akan mudah memilih tenaga kerja sesuai kompetensi dan kebutuhan,” ungkap alumni Teknik Mesin 1987 itu.

Dosen STTNas sekaligus alumni 1984, Retnanestri menambahkan, kerjasama dengan alumni  menjadi penting sebagai bentuk kesinambungan antara kampus dengan dunia industri. Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional untuk menyelaraskan pendidikan tinggi dengan dunia kerja. Salah satunya melalui peranserta alumni dalam pengembangan jejaring.

“Karena itu, komunikasi dengan alumni terus dilakukan untuk membangun jejaring yang lebih luas di dunia kerja. STTNas saat ini memiliki lebih dari lima ribu alumni yang tersebar di berbagai bidang kerja. Mereka bisa ikut berperanserta mengembangkan jejaring dunia kerja,” tutur Retnanestri lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan