Indonesia Butuh Anak Muda Bernyali

Syafii Efendi (tengah berdasi) usai mengukuhkan kepengurusan Wimnus DIY periode 2018-2021, di sportorium UMY, Jogjakarta, Minggu (16/12).

Syafii Efendi (tengah berdasi) usai mengukuhkan kepengurusan Wimnus DIY periode 2018-2021, di sportorium UMY, Jogjakarta, Minggu (16/12).

JOGJA – Anak muda di Indonesia harus lebih tampil ke muka. Sayang, belum banyak anak muda yang memiliki narasi besar yang sangat dibutuhkan untuk negeri ini di masa mendatang. Situasi yang serba instan seringkali pula membuat anak muda kurang bahkan kehilangan kontrol.

“Dibutuhkan anak muda yang bernyali. Orang pintar sudah banyak. Tapi, yang bernyali belum banyak,” ungkap pemikir muda, Syafii Efendi, di sela seminar healthy-preuner series ‘Pola Hidup Sehat Di Era Milenial’, di Sportorium UMY, Jogjakarta, Minggu (16/12).

Anak muda bernyali sangat diperlukan, terutama menurut Syafii, agar negara ini tetap terjaga. “Jangan sampai aset negara yang penting justru dikuasai orang asing,” ujar anak muda yang dikenal pula sebagai trainer dan motivator itu.

Pada seminar yang digagas oleh organisasi kepemudaan Wimnus (Wirausaha Muda Nusantara) itu, Syafii juga menyoroti masih banyaknya pengangguran di Indonesia. “Meski sudah berkurang sedikit, tapi masih ada jutaan anak muda yang belum memperoileh pekerjaan. Karena itu saya mendorong agar anak muda berani memiliki narasi, memiliki impian besar,” katanya.

Menyinggung narasi besar itu, menurut Syafii, anak muda di Indonesia ketinggalan jauh dengan anak-anak muda negara lain. Di Amerika Serikat sudah ada anak muda berusia 18 tahun yang berani menjadi calon gubernur. Tak usah jauh-jauh, menteri pemuda di Malaysia pun berusia tak lebih dari 30 tahun.

“Kita ketinggalan jauh. Sebuah ketertinggalan peradaban yang harus segara kita kejar. Tentu, perlu anak-anak muda yang memiliki narasi besar. Selain, kerelaan orang-orang yang lebih tua untuk membuka kesempatan, memberi ruang kepada anak-anaik muda untuk tampil,” tandas Syafii, sambil mengatakan, anak muda yang ia maksud adalah yang berusia 20-30 tahun.

Selain kadang tidak mau dan tidak tahu, harus diakui memang sedikit sekali edukasi yang mendorong anak-anak muda di Indonesia untuk berani memiliki pemikiran, narasi besar. “Tapi perlu hati-hati pula. Kelemahan anak muda sekarang ini adalah kontrol. Proses yang serba instan seringkali menjadikan mereka kurang kontrol,” tegas Syafii.

Berkaitan dengan tema seminar, Syafii mengajak sekitar 1.500 anak muda yang hadir untuk tidak puas menjadi pegawai atau praktisi. “Jangan hanya puas menjadi tenaga medis, tapi milikilah klinik. Jangan puas menjadi apoteker, tapi berupayalah memiliki apotek. Itulah pentingnya kewirausahaan. Peluang wirausaha di dunia kesehatan masih sangat besar,” katanya.

Pada kesempatan itu, Syafii juga sempat melantik sekaligus mengukuhkan kepengurusan Wimnus DIY untuk periode 2018-2021, dengan menyerahkan pataka organisasi kepemudaan itu kepada ketua terpilih. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan