Indonesia Negara Pertama Raih Lisensi FLEGT Uni Eropa

IMG_20160824_174036

 Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja
JOGJA (jurnaljogja.com) – Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang memperoleh Lisensi FLEGT (Forest Law Enforcement Governance and Trade). Diraihnya lisensi FLEGT itu menjamin semua ekspor produk kayu Indonesia yang telah bersertifikasi SVLK tidak perlu melalui uji tuntas sesuai  Undang-Undang Perdagangan Uni Eropa.
    Staf Ahli Menteri Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Ir Laksmi Dhewanthi MA menyebutkan, dengan terbitnya regulasi tersebut, ini berarti Indonesia  jauh meninggalkan para pesaingnya seperti negara-negara Afrika, Amerika Latin, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Thailand, Laos dan Cina. ”Ini merupakan bukti nyata bahwa SVLK diakui 28 negara anggota Uni Eropa sebagai suatu sistem yang menjamin bahwa bahan baku produk kayu Indonesia tidak berasal dari pembalakan liar,” kata Laksmi Dhewanthi di sela Sosialisasi Lisensi FLEGT di Yogyakarta, Rabu (24/8).
    Ia menjelaskan, persetujuan Parlemen Eropa terhadap Lisensi FLEGT bagi Indonesia pada 9 Agustus 2016. Berkaitan itulah maka Indonesia dan Uni Eropa akan menindaklanjuti penerbitan regulasi tentang Lisensi FLEGT Indonesia. Yaitu dengan mengadakan pertemuan Komite Implementasi Bersama (Joint Implementation Committee) pada 15 September 2016, untuk menetapkan tanggal berlakunya Lisensi FLEGT Indonesia.
Ia memperkirakan, Lisensi FLEGT Indonesia akan secara resmi berlaku tanggal 15 November 2016, setelah semua Otoritas Kompeten (Competent Authority) di semua negara anggota Uni Eropa telah siap menerima ekspor produk kayu dengan Lisensi FLEGT dari Indonesia.
    Sementara Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Ir Rufi’i MSc mengatakan, momentum pengapalan pertama ekspor produk kayu Indonesia berlisensi FLEGT,  akan dirayakan baik di Indonesia maupun di Eropa untuk menandai momen besejarah ini. Setidaknya ada 2 kota tujuan di Eropa yang akan merayakan kedatangan produk kayu berlisensi FLEGT dari Indonesia, yaitu Brussels dan London. ”Kita berharap momentum ini dapat menjadi titik tolak bagi meningkatnya industri perkayuan Indonesia dimasa  datang, karena keberterimaan produk kayu Indonesia di pasar Eropa akan meningkatkan keberterimaan produk kayu Indonesia di pasar-pasar dunia lainnya,” katanya.
        Keberhasilan Indonesia ini  disebutnya sebagai hasil kerja keras multi pihak yang terdiri dari pemerintah, masyarakat sipil, akademisi dan pihak swasta yang telah dirintis sejak tahun 2003 dalam mengembangkan standar SVLK. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan