Industri Ekstraktif Tak Harus Jadi Petaka Lingkungan

 IMG_20170806_104400
Dirut PT Semen Baturaja, Rahmad Pribadi (kiri) berbincang dengan Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Budiadi.

JOGJA – Industri ekstraktif, seperti industri semen, seringkali dituding sebagai pengrusak lingkungan. Pabrik Semen Baturaja ingin menepis stigma tersebut. Bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan UGM, pabrik semen di Sumatera Selatan itu bertekad melakukan penghujauan di area pabrik.

“Kami ingin kegiatan ekstraksi, rehabilitas, dan konservasi bisa berjalan seiring. Sekaligus membuktikan industri ekstraktif tak selamanya menjadi petaka bagi lingkungan,” ujar Dirut PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, Rahmad Pribadi, di sela penandatangan nota kesepahaman dengan Fakultas Kehutanan UGM, di kampus fakultas setempat, Senin (31/7).

Melalui upaya penghijauan, lanjut Rahmad, pihaknya ingin menjadi contoh sukses bagi industri semen lainnya di Indonesia. “Kami tak ingin melawan isu dengan isu. Karena itu selama lima tahun ke depan kami menjalin kerjasama dengan fakultas kehutanan yang memang ahlinya di bidang penghijauan.”

Selain bertujuan untuk memperbaiki lingkungan sekaligus mengurangi polusi, penanaman sejumlah pohon nantinya juga akan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar pabrik. “Kami pun mengharapkan upaya fakultas kehutanan nantinya juga akan bisa meningkatkan kapasitas sivitas akdemika kampus lokal. Paling tidak busamenjadi laboratorium alam maupun bahan penelitian,” tandas Rahmad.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr Budiadi MAgrSc mengaku, sangat gembira dengan naskah kerjasama yang telah ditandatangani. Terutama karena selama ini belum ada pabrik semen di Indonesia mengupayakan pelestarian lingkungan.

“Nantinya tim yang akan kami bentuk akan meningkatkan kualitas lingkungan seputar pabrik melalui teknik silvikultur atau penghutanan kawasan. “Hanya saja, jenis pohon maupun kebutuhan lainnya, terus terang belum bisa kami sebutkan karena sangat kondisional sesuai tapak yang ada,” jelas Budiadi.

Begitu nota kesepahaman ditandatangani, saat itu pula tim kehutanan UGM akan mulai bekerja dengan meneliti kondisi tapak di area pabrik. “Sesuai dengan kebiasaan selama ini, semoga pada Oktober nanti kam sudah bisa mulai melakukan penanaman pohon,” papar Budiadi kemudian.

Tapi, Budiadi pun mengingatkan, upaya rehabilitas maupun konservasi lingkungan bukan pekerjaan jangka pendek. “Ini pekerjaan skala jangka panjang. Semoga dalam kurun waktu lima tahun ke depan sudah mulai bisa dilihat dan dirasakan hasilnya,” tandasnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan