Industri Rumah Tangga Belum Kelola Usahanya Dengan Baik

IMG_20161009_213532
Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja
JOGJA (jurnaljogja.com) – Meski industri rumah tangga terbukti mampu bertahan di saat terjadinya krisis ekonomi, namun rata-rata industri rumah tangga tidak bisa mengelola usahanya dengan baik.
    Menurut Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ir Triwara Buddhi Satyarini MP, mengelola usaha merupakan salah satu pengetahuan umum yang harus dikuasai seorang pelaku usaha. “Manajemen yang baik adalah kunci kesuksesan,” ujarnya dalam diskusi publik di kampus setempat, Sabtu (8/10).
    Dalam hal ini, lanjutnya, yang bertindak sebagai manajer harus mampu merencanakan pekerjaannya, mengatur pegawainya dan sumber daya lainnya untuk mendukung pekerjaan, mengarahkan pegawai dan mengendalikan serta mengevaluasi pekerjaan. Selain itu juga pelaku industri tersebut harus diberi pendampingan.
    Saat krisis ekonomi melanda dunia pada 1997 lalu, sebagian besar kelompok industri rumah tangga mampu bertahan, sementara industri menengah dan besar justru banyak yang gulung tikar. Hal ini karena keberlangsungan hidup keluarga pelaku industri ini sebagian besar tergantung dari usaha yang dikelola sendiri.
   Dalam paparannya, Triwara menyampaikan, kelompok industri rumah tangga bisa menjadi salah satu solusi dalam menghadapi krisis ekonomi. Selain itu, industri yang mampu bertahan ketika terjadi krisis ekonomi, yaitu industri pengolahan. Pada kelompok industri ini mereka mengandalkan hasil pertanian sebagai bahan baku produk, baik yang harus diimpor maupun berupa hasil pertanian lokal.
    Menurut dia, pada dasarnya dalam industri pengolahan ini para pelaku industri melakukan kegiatan dengan mengubah suatu bahan dasar secara mekanis, kimia, maupun dengan tangan langsung sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi. “Dengan ini maka barang yang diolah tersebut dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya.”
Sementara itu Dr Ir Gatot Supangkat MP, pembicara lain pada diskusi tersebut mengatakan,  industri rumah tangga yang mengandalkan hasil pertanian, pemerintah perlu memberikan dukungan dalam regenerasi petani. Jika program ini berhasil, maka akan menanggulangi kemiskinan pertanian. Upaya untuk mencapai kecukupan pangan dan bahkan swasembada pangan telah dilakukan pemerintah, salah satunya pembuatan varietas padi unggul baru. “Namun kenyataan di lapangan, jumlah varietas yang berkembang di petani tidak banyak. Penyebab minimnya jumlah varietas padi yang berkembang di lapangan antara lain faktor geofisik, teknologi, budaya petani dan kebijakan,” sebut Dosen Agroteknologi UMY tersebut. (bam)

 

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan