Industri Tekstil Alami Anomali

Suharno Rusdi (kiri) dan Hari Purnomo

Suharno Rusdi (kiri) dan Hari Purnomo

JOGJA – Industri tekstil Indonesia sedang mengalami anomali sekarang ini. Di satu sisi, industri membutuhkan banyak sumberdaya manusia. Di sisi lain, jumlah lulusan pertekstilan sangat minim.

“Ironis. Bahkan untuk tenaga kerja rendahan pun harus seringkali mendatangkan dari India,” ungkap Ketua Jurusan/Program Studi Teknik Kimia Program Sarjana FTI UII, Dr Suharno Rusdi, di kampus setempat, Selasa (5/3).

Hampir semua karyawan industri tekstil tanah air saat ini sudah menjelang pensiun. “Tahun ini saja sebuah industri tekstil di Solo meminta lima belas orang. Belum lagi industri yang lain di beberapa kota lain,” imbuh Suharno.

Karena itulah prodi Teknik Kimia UII membuka prodi Rekayasa Tekstil untuk tingkat Sarjana mulai tahun akademik 2019/2020 ini. Antara lain guna memenuhi kebutuhan SDM atau naker (tenaga kerja) di industri tekstil tanah air.

Kurikulum didesain untuk dapat menjawab tantangan, sesuai Nomenklatur Tekstil yang masuk ke dalam Rumpun Ilmu Terapan yang dapat mengikuti perkembangan teknologi terkini. “UII perguruan tinggi pertama yang membuka Program Studi Rekayasa Tekstil,” ujar Dekan FTI UII, Prof Dr Ir Hari Purnomo ST MT.

Ia pun memprediksi, industri TPT (tekstil dan produk tekstil) kembali menggeliat karena tumbuhnya pasar ekspor dan kebutuhan domestik. “Industri TPT menjadi satu dari lima sektor manufaktur yang ditetapkan sebagai pionir dalam kesiapan memasuki era revolusi industri keempat di tanah air sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” tutur Hari.

Merujuk catatan Kemenperin, lanjut Hari, industri TPT di dalam negeri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur saat ini.

Industri TPT pun temasuk penghasil devisa negara yang signifikan melalui nilai ekspor sebesar 6,48 miliar dolar AS pada triwulan II-2018. Industri TPT memiliki peranan strategis, karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku (seperti serat) sampai dengan barang konsumsi (pakaian jadi dan barang jadi), mempunyai keterkaitan antar-industri maupun sektor ekonomi lainnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan