Industri Tekstil Perlu Perombakan Total

Suharno Rusdi

Suharno Rusdi

JOGJA – Kebijakan mengenai industri tekstil dan produk tekstil dinilai sudah tak memadai sekarang ini. Perlu pembaruan struktur, pembuatan road map yang baru, bahkan memerlukan penerbitan UU Ketahanan Sandang. Semua itu guna mengangkat industri tekstil dan produk tekstil dari keterpurukan.

“Jika kita, pemerintah, maupun seluruh pemangku kepentingan tak mengambil langkah strategis, industri tekstil Indonesia akan terus dalam kondisi bahaya,” ujar Ketua Umum Ikatsi (Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia), Dr Suharno Rusdi, di Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang 14,5 Jogjakarta, Kamis (21/3).

Industri tekstil dan produk tekstil Indonesia saat ini, imbuh Suharno, dalam kondisi sangat terpuruk. Banyak produk tekstil impor membanjiri pasar Indonesia, sementara ekspor Indonesia sangat sedikit. “Impor memenuhi pasar kita karena produk asing harganya sangat kompetitif,” tuturnya.

Jika produk impor terus membanjir, tentu akan membuat industri kita kalah bersaing. Akibat berikutnya, tenaga kerja kita di bidang tekstil tidak akan terserap. “Sejumlah industri kita saat ini pun telah banyak mempekerjakan tenaga asing terutama asal Tiongkok dan India. Ironisnya, tak hanya pada level manajer ke atas, tapi juga pada jajaran tenaga rendahan,” papar Suharno.

Struktur industri tekstil Indonesia sekarang ini, menurut Suharno, pun sangat lemah karena hampir 90 persen mesin produksi masih harus didatangkan dari luar negeri. “Bahkan bahan baku kapas, pun saat ini Indonesia juga harus mengimpor,” ujarnya prihatin.

Kendati begitu, Suharno cukup optimistik menyangkut ketergantungan bahan baku ini. Indonesia memiliki potensi besar untuk tak lagi tergantung pada kapas. Indonesia bisa beralih ke serat lain yang bisa dijadikan kain Rayon. Atau kita memproduksi Polyester melalui proses petrokimia,” katanya.

Melalui teknologi, Indonesia harus mampu menciptakan produk tekstil yang tidak berbahan kain katun. “Banyak teknologi sekarang ini yang mampu mengubah Rayon maupun Polyester sehingga cocok dikenakan di iklim tropis. Kita tak perlu khawatir untuk itu,” papar Suharno.

Secara lebih luas, tandas Suharno, Indonesia harus mampu membuat road map yang baru menyangkut tekstil. Terutama menyakut lokasi, harus dibangun satu kawasan industri tekstil dan produk tekstil terpadu sehingga produk tekstil kita akan mampu bersaing.

Sudah saatnya pula Indonesia memiliki UU Ketahanan Sandang. “Keberadaan undang-undang itu sangat mendesak guna melindungi industri tekstil tanah air. Terutama dari ketergantungan bahan baku dan produk impor. Harus segera dilakukan agar industri tekstil dan produk tekstil tanah air tidak terus terpuruk dan bisa lepas dari situasi bahaya,” ungkap Suharno kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan