Ini Alasan Era 4.0 Harus Diwaspadai

Johanes Eka Priyatma (kiri) dan Rohandi

Johanes Eka Priyatma (kiri) dan Rohandi

JOGJA – Revolusi Industri 4.0 mengubah hampir semua sendi kehidupan. Tak terkecuali dunia pendidikan tinggi. Semua pihak harus menyikapi bahkan menghadapi era 4.0 itu secara hati-hati. Jika tidak siap, tidak waspada, seringkali datangnya terasa tiba-tiba.

“Tanpa antisipasi yang tepat, kita bisa saja tergagap-gagap. Tiba-tiba ada sesuatu atau bahkan semuanya berubah. Perguruan tinggi, termasuk kami, harus menyadari perubahan tersebut,” ungkap Rektor USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta, Johanes Eka Priyatma PhD, di kampus setempat, Kamis (20/12) petang.

Berkaitan dengan dies natalis ke-63, universitas tersebut memang sengaja mengambil tema berkaitan dengan revolusi industri 4.0. “Kunci era 4.0 itu kecepatan. Kita semua harus mewaspadainya. Jika tidak, bisa saja kita kemudian kaget dengan perubahan yang muncul,” tutur Eka kemudian.

Ia pun menyatakan, kita semua tidak tahu apakah 20 tahun mendatang masih adakah mahasiswa yang datang ke kampus, atau tidak. “Tentu hal itu harus diantisipasi. Yang terpenting, sebagai perguruan tinggi, kami ingin bisa mendampingi anak-anak muda menghadapi masa depan mereka,” tegas Eka.

Khusus menghadapi perubahan di era 4.0, rektor pun menandaskan, telah menyusun renstra (rencana strategis) terutama berkaitan dengan pengembangan pendidikan ke depan. “Kami ingin melakukan pengembangan pendidikan secara kontekstual. Seoptimal mungkin memanfaatkan kemajuan teknologi,” katanya.

Disadari, semua itu tidak mudah. “Tergantung kemauan, kerelaan, kesiapan semua pihak. Bersediakan mereka berubah untuk memasuki hal baru,” papar Eka lebih jauh.

Wakli Rektor I USD, Rohandi PhD mengemukakan, antisipasi serta penyikapan terhadap perubahan di era 4.0 itu jangan sampai menghilangkan jatidiri yang kita miliki sebagai bangsa. “Kesadaran mengenai keragaman, misalnya, harus tetap dijaga. Jangan sampai tergusur. Sistem nilai yang kita miliki tak boleh larut, betapa pun besar dan cepatnya perubahan itu,” ujarnya.

Sebagai cerminan ke-Indonesia-an, pada puncak peringatan dies, Jumat (21/12), ditampilkan pula tari kolosal hasil kolaborasi mahasiswa dari berbagai daerah. Ada yang dari Papua, Nias, Mentawai, Kalimantan, dan lain-lain. “Semaju apapun teknologi, USD ingin identitas kebudayaan sebagai bangsa multi-etnis tetap dipertahankan,” tutur Rohandi kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan