Ini Alasan Jangan Golput

Golput: Amir Nasirudin dan Ahmad Sidqi menunjukkan contoh surat suara, pada talkshow anti-golput, di Auditorium RRI, Jogjakarta, Senin (25/3).

Golput: Amir Nasirudin dan Ahmad Sidqi menunjukkan contoh surat suara, pada talkshow anti-golput, di Auditorium RRI, Jogjakarta, Senin (25/3).

JOGJA – Sudah semestinya setiap warganegara yang berhak menggunakan hak pilih berpartisipasi dalam pemilu. Termasuk kaum milenia sudah sewajarnya jika menggunakan hak pilih mereka pada pemilu 17 April 2019 mendatang. Penggunaan hak pilih akan menentukan nasib bangsa, setidaknya lima tahun ke depan.

“Karena itu jangan golput. Gunakan hak pilih. Memilih itu keren,” ungkap Kepala Stasiun RRI (Radio Republik Indonesia) Jogjakarta, Redno Desy Swarsi, pada talkshow bertajuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Menggunakan Hak Politik Tanpa Golput pada Pemilihan Umum, di Auditorium RRI, Jogjakarta, Senin (25/3).

Suara kaum muda dalam pemilu mendatang, ujar Redno, akan ikut menentukan nasib bangsa. Karena itu, tak semestinya mereka golput. “Untuk itu, talkshow kami lakukan. Dan ini bukan satu-satunya talkshow yang kami gelar,” tegasnya.

Sebagai lembaga penyaiaran, RRI memang ikut bertanggungjawab terhadap suksesnya pemilu. “Sebagai media penyiaran, kami selalu melakukan siaran-siaran yang inspiratif sebagai pencerahan. Kami pun memiliki slogan Memilih Itu Juara,” tutur Redno kemudian.

Ahmad Sidqi dari KPU DIY mengemukakan, pemilu janga dianggap sebagai ingar-bingar lima tahunan belaka. Pemilu merupakan pintu masuk dari segala kebijakan yang akan dibuat oleh para politikus yang kita pilih melalui pemilu. “Karena itu, tak berlebihan jika kita mengatakan lima menit di
dalam TPS akan menentukan nasib bangsa,” katanya.

Jika apatis politik melanda masyarakat dan banyak yang golput, maka semestinya tidak protes ketika ada kebijakan yang tak sesuai dengan keinginan mereka. “Untuk itu KPU terus berupaya untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat,” tandas Sidqi seraya mengemukakan, pada pilpres 2014
tingkat partisipasi masyarakat di DIY mencapai 80 persen.

Amir Nasirudin dari Bawaslu DIY menegaskan, akan terus berusaha untuk menekan politik uang. Tak sekadar memerangi politik uang, tapi ada strategi sehingga bisa mengubah pola pikir masyarakat. “Warga janga hanya menolak, tapi bersamaan dengan itu harus pula melawan politik uang dengan cara melaporkan ke yang berwenang,” ujarnya.

Kasubbid PID Bid Humas Polda DIY, AKBP Suyono menyatakan, secara greografis DIY tak menemui banyak masalah terkait dengan pelaksanaan pemilu pada 17 April mendatang. “Hanya saja kota Jogja memang memiliki tingkat kerawanan yang harus diantisipasi mengingat Jogja merupakan miniatur Indonesia. Tiap polsek sudah memiliki petanya,” tuturnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan