Ini Aplikasi Aman Tangkal Pencuri Data

Yudi Prayudi (kiri) dan Ady Suprianto.

Yudi Prayudi (kiri) dan Ady Suprianto.

SLEMAN – Tak ada yang bisa menjamin seratus persen mengenai keamanan data atau informasi di dunia maya. Selalu ada saja celah untuk menembusnya. Sumber statistik breachlevelindex.com menunjukkan, sepanjang tahun 2016 beredar lebih dari 3,4 miliar data di dunia maya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,3 miliar di antaranya mengalami pencurian.

“Begitu rentan keamanan di dunia maya ini. Kondisi itu mendorong mahasiswa kami, Ady Suprianto, menyusun satu aplikasi guna menangkal pencurian data,” ujar dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII (Universitas Islam Indonesia), Yudi Prayudi SSi MKom, di kampus setempat, Jalan Kaliurang Km 14,5 Sleman DIJ, Rabu (6/12).

Ady yang mengambil konsentrasi Forensika Digital itu melakukan enkripsi atau menyembunyikan data ke dalam bentuk image sehingga hanya penerima dan memiliki aplikasi yang sama, yang bisa membuka atau membacanya. “Berdasarkan analisa, aplikasi yang dikembangkan Ady ini jauh lebih aman. Bahkan pembobolan data melalui serangan bruteforce atau coba-coba menunjukkan estimasi waktu yang sangat lama,” tutur Yudi kemudian.

Yudi mencontohkan, kartu ATM perbankan akan terblokir secara otomatis jika kita melakukan tiga kali kesalahan memasukkan nomor pin. “Tapi menggunakan komputer, nomor pin yang hanya terdiri dari enam digit itu akan bisa diketahui dalam hitungan menit. Cukup mudah dibobol,” jelasnya.

Pada prinsipnya, Ady menawarkan teknik enkripsi FTIE (File To Image Encryption) menggunakan algoritma Randomized Text dan ACM (Arnold Cat Map). FTIE, teknik yang dikembangkan dari teknik TTIE (Text To Image Encryption). “Jika TTIE melakukan enskripsi dari sebuah teks ke dalam sebuah gambar, FTIE mengenkripsi dari file menjadi sebuah gambar,” papar Yudi.

Ady menjamin, aplikasi yang ia kembangkan cukup aman. Analisis histogram menunjukkan, pola chiperimage yang mirip, kemudian analisis NPCR menunjukkan nilai yang hampir mencapai 100 persen. Lalu analisis menunjukkan nilai rata-rata sekitar 7,98 dari nilai ideal 8.

“Analisis serangan bruteforce menunjukkan estimasi waktu yang sangat lama. Analisis waktu enkripsi menunjukkan, waktu enkripsi yang dibutuhkan FTIE lebih singkat dibandingkan dengan teknik TTIE. Terakhir, pengujian integritas menunjukkan, hasil enkripsi dan dekripsi dapat dipertanggungjawabkan integritasnya,” papar Ady.

Kalaupun ada kelemahan, menurut Ady, akan membutuhkan waktu lama jika file yang akan dienkripsi berukuran besar. Misal, di atas 500 megabyte. Image atau gambar hasil enkripsi juga akan dua kali lebih besar ukurannya dibandingkan file asli. “Jika boleh dianggap kelemahan, pengirim maupun penerima harus memiliki aplikasi yang sama,” tandasnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan