Ini Cara ‘Menjual’ Jogja Saat Sepi Wisatawan

Jogjavaganza: Yetti Martanti dan Fito Laksmana menjelaskan seputar gelaran Jogjavaganza, di Balaikota Jogjakarta, Kamis (1/2).

Jogjavaganza: Yetti Martanti dan Fito Laksmana menjelaskan seputar gelaran Jogjavaganza, di Balaikota Jogjakarta, Kamis (1/2).

JOGJA – Dinas Pariwisata Kota Jogjakarta dan BP2KY (Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta) mempunyai jurus jitu untuk ‘menjual’ Jogja saat sepi wisatawan. Gelaran table top bertajuk ‘Jogjavaganza’ menjadi andalan insan pariwisata di Kota Gudeg itu untuk melakukan promosi guna menjaring wisatawan nusantara. Tak kurang dari 100-an buyers dari berbagai daerah di Indonesia telah menyatakan untuk bersedia datang.

“Kami sengaja menggelar Jogjavaganza di saat low season. Di bulan-bulan Januari, Februari, bahkan hingga April. Acara intinya, kami akan mempertemukan antara para pelaku wisata di kota Jogja dengan para buyers dari luar daerah,” ujar Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Kota Jogjakarta, Yetti Martanti, di balaikota setempat, Kamis (1/2).

Jogjavaganza merupakan kegiatan promosi pariwisata kota Jogja yang melibatkan seluruh pemangku pariwisata yang ada, dengan mengundang tak kurang dari 120 buyers potensial atau agen perjalanan dari berbagai daerah di Indonesia. Meski table top pada Jogjavaganza baru akan digelar 20-23 Februari 2018 namun hingga saat ini tak kurang dari 100 buyers telah menyatakan akan datang.

“Pada table top tersebut, Jogjavaganza akan memfasilitasi dengan mempertemukan antara 70 pelaku usaha pariwisata khususnya hotel non bintang, agen perjalanan, objek wisata, restoran, hingga pusat oleh-oleh dengan para buyers yang hadir, sehingga mereka akan dapat melakukan kegiatan B2B (business to business),” jelas Yetti kemudian.

Sengaja mengutamakan hotel non bintang, menurut Yetti, karena hotel berbintang biasanya sudah memiliki cara promosi sendiri. Kami juga memilih waktu justru di saat low season atau saat sepi wisatawan, sekaligus untuk menunjukkan kota Jogja memiliki gelaran acara maupun tujuan wisata yang patut dikunjungi kapan pun. “Di saat low season sekalipun,” tuturnya lebih jauh.

Ketua BP2KY, Fito Laksmana, mengakui, Jogjavaganza diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisata saat low season. Bulan Januari hingga April, merupakan saat-saat Jogjakarta sepi wisatawan. Pada bulan-bulan itu jumlah kunjungan wisata sangat sedikit. Bahkan tingkat hunian hotel bisa terpuruk hingga tinggal 10 persen. “Karena itulah Jogjavaganza kami gelar untuk mengubah kondisi itu. Paling tidak, bagi wisatawan domestik,” ujarnya.

Sebagai rangkaian acara table top, para buyers yang hadir nantinya juga akan diajak untuk mengikuti welcome dinner, closing dinner, serta post tour ke berbagai tujuan wisata yang ada di kota Jogja. Ini merupakan table top kali pertama yang digagas sehingga belum diketahui jumlah transaksi yang kemungkinan akan mampu digaet. Tapi dari antusiasme buyers yang bersedia hadir, nampaknya akan cukup menggembirakan.

Menyemarakkan Jogjavaganza dengan acara inti table top, sebelumnya pada 10 Februari 2018 akan digelar pula berbagai acara menarik. Antara lain Jogjavaganza Fun Night Run 5K, Jogjavaganza Fun Healthy, dan Jogjavaganza Fun Feskul. Semuanya terbuka untuk umum dengan tiket Rp 55.000 untuk Fun Night Run dan Rp 35.000 untuk Fun Healthy.

Untuk Fun Night Run akan disediakan total hadiah Rp 55 juta, serta banyak door prize antara lain paket tour ke Bali untuk dua pax bagi peserta yang beruntung. Sedang Fun Healthy lebih difokuskan untuk mengatasi stres dengan cara memadukan antara yoga dan menari, dipandu psikolog Anggiastri H Utami MPsi dan koreografer Mila Rosinta T MSn. Feskul yang akan digelar di halaman balaikota diisi beberapa stan makanan maupun minuman, bekerjasama dengan APJI (Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia) dan ICA (Ikatan Chef Indonesia). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan