Ini Dia Aplikasi Berbasis Mobile Bagi Penderita DM

Latri Wulansuci (kiri) dan Izzati Muhimmah

Latri Wulansuci (kiri) dan Izzati Muhimmah

JOGJA – Diabetes mellitus masih berada dalam peringkat sepuluh besar penyakit yang banyak terjadi di Indonesia. Penderita pun seringkali susah untuk disiplin menjaga pola makan mereka sehingga tak jarang memperparah penyakitnya. Namun, itu semua bisa diatasi. Seorang mahasiswi magister teknik informatika UII telah merancang aplikasi berbasis mobile yang mampu menjaga asupan kalori penderita DM (diabates mellitus) tipe-2.

“Aplikasi ini terutama bisa dipergunakan para dokter atau pendamping untuk mengetahui kebutuhan kalori yang tepat pada pasiennya sehingga mereka akan mampu memberikan saran yang tepat pula agar penyakitnya tidak bertambah parah,” ujar perancang aplikasi tersebut, Latri Wulansuci.

Dosen pembimbing, Izzati Muhimmah PhD mengemukakan, aplikasi ini akan sangat membantu bagi pasien untuk bisa disiplin menjaga pola makan mereka. “Pasien DM tipe-2 tak akan lagi bisa berbohong karena seluruh aktivitas konsumsi makanan mereka per waktu makan per hari bisa terpantau melalui aplikasi ini,” katanya.

Aplikasi ini sudah diujikan di instalasi gizi salah sebuah rumah sakit di Tegal, Jateng dan memperoleh tanggapan positif. “Bahkan mahasiswi kami itu harus terus mengembangkan aplikasinya karena banyak fitur yang harus ditambahkan, justru atas saran para ahli gizi dan dokter di rumah sakit tersebut. Aplikasi ini memang masih belum final. Masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi,” papar Izzati kemudian.

Sistem atau aplikasi berbasis mobile web ini akan memberikan rekomendasi pilihan menu makanan sesuai dengan jumlah asupan kalori per waktu makan. Aplikasi ini lebih ditargetkan bagi pasien rawat jalan penderita DM tipe-2 yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

“Diharapkan melalui penerapan sistem ini, asupan makanan yang dikonsumsi pasien dapat lebih terkontrol. Penerapan sistem juga ditujukan untuk mencegah hiperglikemia atau kadar gula darah berlebih dan hipoglikemia atau kadar gula darah rendah akibat pola makan yang tidak baik,” jelas Latri.

Sistem ini ditargetkan untuk digunakan pasien rawat jalan penderita DM tipe-2, atau pendamping yang memiliki akses untuk menggunakan sistem. “Sangat disarankan penggunaan sistem dilakukan oleh pasien sendiri. Dengan begitu, data yang diinputkan akan lebih akurat dan pasien dapat mendapatkan pengetahuan secara langsung oleh sistem serta mencegah kesalahan komunikasi yang mungkin terjadi antara pasien dan pendamping,” tandas Latri.

Uniknya, aplikasi rancangan Latri tersebut tak lagi sekadar memberikan informasi tentang jumlah kalori pada satu jenis bahan pangan, tapi sudah menginformasikan jumlah kalori pada menu makanan tertentu. Bahkan pengguna dapat mengakses pula bahan makanan yang dibutuhkan, lengkap dengan resep atau cara memasak menu makanan tertentu itu.

“Kami menyarankan agar pasien menggunakan sistem sampai mencapai berat badan ideal,” tegas Latri seraya menuturkan, penerapan sistem dilakukan di Indonesia dengan pengetahuan mengenai menu makanan yang diperoleh dari berbagai sumber lokal dan internasional. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan