Ini Dua Kereta Unggulan Balai Yasa Jogjakarta

Kereta Penolong: Dirut PT KAI, Edi Sukmoro (dua kanan) memperoleh penjelasan seputar pengembangan Kereta Penolong, di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (27/12).

Kereta Penolong: Dirut PT KAI, Edi Sukmoro (dua kanan) memperoleh penjelasan seputar pengembangan Kereta Penolong, di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (27/12).

JOGJA – Sebagai salah satu BUMN, PT KAI (Kereta Api Indonesia) terus meningkatkan kemampuannya. Balai Yasa Yogyakarta pun mampu mengembangkan kereta unggulan. Setelah Kereta Medis, kini ‘bengkel’ lokomotif terbesar se Asia Tenggara itu mampu mengembangkan Kereta Penolong.

“Kami menargetkan pengembangan Kereta Penolong ini akan selesai Januari 2019 besok,” ungkap Dirut (Direktur Utama) PT KAI, Edi Sukmoro, di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (27/12), di sela melakukan inspeksi ke Stasiun Tugu dan Balai Pelatihan Teknik Traksi, Jogjakarta, menyambut Natal dan Tahun Baru 2019.

Pengembangan Kereta Penolong, menurut Edi, akan mempercepat perbaikan ketika muncul kondisi darurat bagi lokomotif. “Jika ada lokomotif rusak di satu tempat, misalnya, kami pastikan penanganannya kini akan lebih cepat,” katanya seraya menegaskan, kecepatan Kereta Penolong hasil pengembangan Balai Yasa Yogyakarta itu bisa mencapai 80 km/jam, dibandingkan yang lama hanya 40 km/jam.

Kereta Penolong tersebut, imbuh Edi, akan melengkapi Kereta Medis yang telah dikembangan Balai Yasa Yogyakarta sebelumnya. “Mereka memang luar biasa. Balai Yasa Yogyakarta satu-satunya di Indonesia yang berhasil mengembangkan dua kereta tersebut,” tuturnya kemudian.

Kepala Balai Yasa Yogyakarta, Hasim Suwondo menjelaskan, pengembangan Kereta Penolong itu dimulai awal November kemarin. “Kami memang ditugasi kantor pusat untuk mengembangkan dua kereta tersebut,” katanya didampingi Manajer Humas PT KAI Daop 6, Eko Budianto.

Salah satu keunggulan Kereta Penolong tersebut, menurut Hasim, mampu bergerak sendiri tanpa harus ditarik oleh kereta atau lokomotif lain. “Kereta Penolong ini kami kembangkan dari KRD yang memiliki daya gerak sendiri menggunakan mesin diesel,” tuturnya lebih jauh.

Nantinya, Kereta Penolong dan Kereta Medis bisa dijalankan secara bersamaan. “Dengan demikian, jika terjadi kecelakaan, misalnya, Kereta Penolong bisa segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan gerbong maupun lokomotif. Sedangkan Kereta Medis bisa segera menangani jika ada penumpang, kru kereta api, atau yang lain mengalami celaka,” papar Hasim. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan