Ini Jurus Agar Negara Tidak Bubar

Milad: Dubes Luar Biasa RI untuk Turki, Dr H lalu Muhammad Iqbal menyampaikan pidato milad ke-38 UMY, di kampus setempat, Kamis (28/3).

Milad: Dubes Luar Biasa RI untuk Turki, Dr H lalu Muhammad Iqbal menyampaikan pidato milad ke-38 UMY, di kampus setempat, Kamis (28/3).

JOGJA – Dunia internasional sekarang ini sedang dilanda anomali. Suatu negara harus hati-hati dan tepat menentukan arah kebijakan luar negerinya. Salah menentukan kebijakan, negara itu bisa hanya tinggal nama. Akan dilibas oleh sejarah.

“Itu berlaku pula bagi Indonesia. Harus pandai menentukan arah di tengah anomali dunia saat ini,” ujar Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Turki, Dr H Lalu Muhammad Iqbal, saat menyampaikan pidato milad ke-38 UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), di kampus setempat, Kamis (28/3).

Iqbal yang lulus S1 Hubungan Internasional UMY pada 1996, itu juga mengemukakan, salah satu langkah agar satu negara menjadi sukses, harus memahami betul kepentingan negaranya. Untuk tahu kepentingan negara, harus tahu betul denyut nadi bangsa tersebut. “Jika tidak, negara itu akan tergeser oleh sejarah,” tandasnya.

Bukan hanya kepentingan negara, tapi mau tidak mau arah kebijakan negara saat ini juga akan ditentukan oleh kepentingan korporat-korporat besar yang berada di balik kekuasaan. “Tarik menarik kepentingan itu menjadi keniscayaan saat ini. Karenanya, negara harus pandai-pandai mencari titik keseimbangan,” tutur Iqbal kemudian.

Hal lain yang perlu dicermati, imbuh Iqbal, negara harus mengetahui betul DNA politik luar negerinya. Mengutip para pendiri bangsa, terutama Mohammad Hatta, DNA politik luar negeri Indonesia itu ‘Berlayar di antara dua karang’.

“Para pendiri bangsa rupanya sangat benar. Indonesia itu selalu menghindari monopolaritas. Selalu menjamin perimbangan kekuatan di dunia internasional. Karena itu, sampai saat ini masih aman. Tidak seperti Libya, Yaman, dan lain-lain yang kini ibaratnya tinggal sejarah,” papar Iqbal.

Kebijakan luar negeri, menurut Iqbal, pun memiliki margin of error. Semakin besar suatu negara maka margin of error-nya juga besar. Amerika Serikat misalnya, telah melakukan kesalahan di Afghanistan, di Irak, tapi yang kena dampaknya bukan Amerika namun negara-negara yang lebih kecil itu.

Indonesia termasuk negara besar. Margin of error-nya juga besar. Tapi harus hati-hati. Karena kekuatannya tidak terlalu besar, perlu waktu beberapa saat untuk memperbaiki jika membuat kesalahan. “Contoh menyangkut Timor Timur. Dampaknya tidak terlalu terasa, meski perlu waktu untuk memulihkan ke situasi seperti sebelumnya,” jelas Iqbal.

Rektor UMY, Dr Ir Gunawan Budiyanto MP banyak mengemukakan mengenai kemajuan dan keberhasilan UMY hingga saat ini. “Dari dulu hingga saat ini UMY senantiasa berkontribusi untuk umat melalui pendidikan dan pengabdian. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan beragam inovasi, hingga pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi dan terobosan ekonomi.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan