Ini Kendala Pabrik VCO Di DIY

Kelapa: Syaukani (dua kiri) pada temu mitra koperasi kelapa, yang difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM, di Jogjakarta, Kamis - Jumat (4-5/4).

Kelapa: Syaukani (dua kiri) pada temu mitra koperasi kelapa, yang difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM, di Jogjakarta, Kamis – Jumat (4-5/4).

JOGJA – Produk kelapa, seperti minyak kelapa dan VCO (virgin coconut oil), sebenarnya membawa manfaat secara ekonomi. DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) pun memiliki potensi. Hanya saja, masih ada beberapa kendala sehingga sampai saat ini pengembangan pabrik minyak kelapa dan VCO di DIY belum optimal.

“Pasokan bahan bahan baku menjadi salah satu kendala utama pengembangan pabrik VCO di DIY,” ungkap salah seorang pengusaha, Syaukani, pada hari kedua temu mitra koperasi kelapa, yang difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM, di Jogjakarta, Jumat (5/4).

Usaha produksi kelapa di DIY, imbuh Syaukani, sebenarnya sangat potensial. Hanya saja para pelakunya belum memiliki keberanian untuk membuka usaha dalam skala besar. Salah satunya karena alasan ketersediaan bahan baku sebesar 50 ton per minggu.

Selain bahan baku, keberanian untuk mengeksekusi usaha terkait dengan kelapa itu juga masih sangat kurang. “Belum banyak pengusaha yang benar-benar berani terjun ke usaha itu. Rata-rata kurang sabar. Padahal, tak ada usaha yang instan. Semuanya butuh proses,” tutur Syaukani.

Syaukani yang mengaku sudah bertahun-tahun menekuni bisnis pengolahan kelapa menjadi minyak dan VCO di daerah Pakem, Sleman, DIY itu mengatakan, sebenarnya wilayah Kalibawang, Kulonprogo, DIY sangat potensial menghasilkan kelapa. “Sayang belum digarap maksimal,” kata pemilik PT Kerambil Hijau itu.

Jarak Kalibawang dengan Pakem pun sebenarnya tidak begitu jauh. Bahkan bisa dijangkau, meski hanya menggunakan sepedamotor. Syaukani pun membandingkan dengan di daerah NTB yang harus melakukan perjalanan sembilan jam untuk memenuhi kebutuhan kelapa. “Itupun harus melalui laut,” tandas Syaukani.

Jika ingin usaha produksi kelapa di DIY maju dan berkembang, perlu ada keberanian termasuk dengan cara membentuk kelompok atau plasma guna menutup kekurangan pasokan bahan baku. Bagaimana pun usaha kelapa ibarat tidak ada matinya. “Kementerian perlu menindaklanjuti temu mitra ini, misal dengan bimbingan teknis disusul praktik langsung,” harap Syaukani.

Ia pun mengemukakan, cara serupa pernah dia praktikkan di luar Jawa. Langsung tersedia tumpukan kelapa disertai mesin sehingga tinggal melakukan prosesnya. “Di sinilah pentingnya para pelaku usaha kelapa menjalin kemitraan termasuk dengan kementerian sehingga tercipta efisiensi,” kata Syaukani.

Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Simanungkalit menjelaskan, kegiatan temu mitra merupakan salah satu upaya kementerian untuk meningkatkan daya saing UKM dan Koperasi agar naik kelas serta mampu bersaing. “Sekaligus sebagai konsolidasi koperasi terutama koperasi kelapa,” tuturnya kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan